Postingan

If it belongs to you, it will be yours.

Setelah sekian lama tidak posting, malam ini rasanya ingin posting sesuatu hahaha. Hitung-hitung biar blog nggak kerasa gersangnya setelah lama tidak diupdate wkwkwk. Jadi tulisan ini berangkat dari percakapanku dengan salah seorang sepupuku tadi malam. Cerita singkatnya sih, dia sedang galau dan pesimis apa dia bisa meraih impiannya. Selayaknya cici sepupu 'sok bijak', aku cuma bilang ke dia, 'Kalau memang itu rejekimu, kamu bakal dapat itu kok. Kan yang penting kamu udah ngusahain itu.'. Looks so simple, but practically, it's fucking hard, right? Siapa sih orang yang mau dengan mudahnya legowo ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan? Kalau bisa aku dapat mneskipun berdarah-darah, why not? Yah, makanya itu. Usahain dulu, kalau nggak bisa, yaudah. Emang bukan rejeki. Aku keingat ada suatu momen dimana dulu waktu awal kuliah, salah satu hal yang mau aku capai adalah masuk organisasi eksekutif. Biar bisa jadi mahasiswa gaul ceritanya, karena pas SMA aku kuper ora...

Tentang Dia dari Tiga Tahun yang Lalu

Kata si Mama (dan mungkin kata orang-orang lain), 'Kamu tidak akan pernah menduga takdir akan membawamu ke mana, dan kepada siapa.'. Aku ingat kata-kata itu keluar ketika kami membicarakan mengenai jodoh dan pikiran skeptis-pesimisku mengenai menemukan pasangan, hingga aku nyeletuk kepada si Mama, 'Ma, kalo saya nggak nikah, nggak papa ya?'  Meskipun si Mama responnya,'Yahh..yang penting kamu bahagia.' dengan wajah datar, tetap aja kata-kata akhirnya, '..tapi kalo bisa menikah lah Ke. Mama pinginlah ada laki-laki yang bisa jaga kamu.'  yang kemudian dilanjutkan dengan perdebatan nggak penting kami. Topiknya adalah aku yang ngotot untuk hidup berdikari, dan si Mama yang optimis aku bisa menemukan sosok yang tepat dengan mengeluarkan kutipan yang aku ketik di awal tadi.  Untungnya, beberapa bulan setelah obrolan dengan si Mama, dia mengajakku telponan bareng dengan embel-embel, 'ingin curhat'. Iyah, dia yang pada akhirnya bisa membuat  si Mama menj...

Grace dan Martabak Tengah Malamnya

Mungkin beberapa diantara kalian yang pernah baca tulisanku akan terheran-heran melihat judul tulisanku kali ini. Iyah, ini judul teraneh yang pernah aku bikin, tapi ya sudah ya, isi dari tulisan ini (harusnya) tidak seaneh judulnya kok. Aku bingung aja mau bikin judul apa buat tulisan ini, jadi aku bikin judul ini hahaha. Ya sudah, langsung aja ke ceritanya. Waktu itu, si Grace (a.k.a adekku) baru pulang ke Jayapura, kota asal kami. Grace itu mirip aku, nggak bisa diam aslinya. Bedanya, walau kami sama-sama nggak bisa diam, aku masih bisa beraktivitas di dalam rumah, sok-sok nyari kesibukan lah ceritanya walau hanya sekedar mondar-mandir ngambil air di dispenser-minum-ke toilet, yang penting gerak lah. Dan Grace nggak. Dia persis si Papa yang kalau nggak keluar rumah sehari, bisa kumat resenya.  Suatu malam seusai doa rutin bersama kami, Grace dengan wajah sumringah- seolah mendapat pencerahan dari surga- ngomong ke aku, 'Ci Keke, ayok beli martabak.' Aku yang mendengar omonga...

Perbincangan Mengenai Hidup

Gambar
Beberapa waktu ini, aku sempat mengobrol dengan beberapa orang mengenai 'hidup'. Banyak sih pembahasannya, tapi mari kita mulai dulu part 1 dengan 'tujuan hidup'. Ha ha ha. Aku ingat, di suatu malam, aku yang waktu itu lagi ngerjain salah satu tanggung jawab kuliah di ruang tengah, sambil ngeteh, dan si dedek yang juga sedang berkutat dengan tugasnya. Terus si dedek tiba-tiba ngomong, "Ci Keke, menurutmu kenapa ko harus hidup?" Berhubung aku habis baca salah satu bukunya Mark Manson yang Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat, kujawabin lah pertanyaan si dedek dengan salah satu hal yang kutemukan di buku itu, "Yah saya hidup untuk menemukan kenapa saya harus hidup.", sambil tersenyum sok bijak. Jawabanku tuh berasa kayak kalau difilmkan tuh alurnya bakal kayak gini: si Keke ngomong gitu malamnya, terus ketika si Keke menjalani hari-hari yang ia pikir tidak bermakna, kemudian satu-per-satu orang yang terlibat di dalam ceritanya ngomong ke dia dengan dra...

Our Own Happy Part

Beberapa waktu ini aku mendengar kabar yang menurutku merupakan kabar bahagia dari teman-temanku. Ada yang pada akhirnya move on setelah gagal berkali-kali dan menemukan orang yang menurutnya lebih baik dari sebelumnya, padahal ia dahulu meyakini mantannya adalah orang terbaik yang pernah ia miliki. Ada yang pada akhirnya bisa menemukan seseorang yang bisa ia ajak serius setelah berulang bertahun-tahun terus terjebak dalam hubungan  friendzone . Ada yang pada akhirnya bersama orang yang sudah ia dekati bertahun-tahun meskipun perjuangan untuk mendekatinya tidaklah mudah bahkan butuh penolakan berkali-kali. Ada yang akhirnya bisa menjalin hubungan serius setelah trauma yang ia alami beberapa tahun lalu bersama mantan pacarnya. Ada yang pada akhirnya menemukan laki-laki yang benar-benar tulus memperhatikan dan menyayangi dirinya, padahal awalnya dia dulu sudah enggan berpacaran karena dulunya memiliki berbagai pengalaman buruk ketika berpacaran. Dan banyak ce...

First Step: Love Yourself!

Gambar
source :  https://ncxsqld.com/self-quotes-tumblr Beberapa waktu belakangan ini, aku ngerasa aku cukup sering dipaparkan oleh quotes-quotes self-love dan teman-temannya di explore instagramku. Memang beberapa waktu ini aku cukup sering ngeliat quotes terkait relationship , tapiiii..kenapa tiba-tiba topik  self-love juga menjadi topik yang cukup sering 'mejeng' di explore- ku?   Tapi emang Tuhan itu baik. Ia tampaknya mengarahkanku untuk mengevaluasi satu hal penting dalam diriku : self-love . Huahahhahahaha... Memang selama beberapa hari ini aku ngerasa kalau aku cukup sering merasa insecure dalam diriku sendiri sehingga self-love adalah hal yang sulit kulakukan, apalagi aku ngerasa luka yang aku pernah alami juga sedikit banyak memengaruhiku dalam mencintai diriku sendiri. Contoh aja nih, ketika menjalin hubungan, aku nggak jarang merasa aku bukanlah pacar yang baik untuk pasanganku. Banyak pikiran negatif yang ada di kepalaku ketika menjalin hubungan dengann...

Kamu dan Kenangan di Hari Kemarin

Gambar
Hari ini ada seorang teman yang menanyakanku sebuah pertanyaan yang membuatku cukup berpikir: "Apa ketakutan terbesarmu?" Dan aku menjawab: "Kehilangan orang yang aku sayang." Namun, pertanyaan itu membuatku kembali berpikir, kenapa aku begitu takut kehilangan orang yang aku sayang? Dan setelah aku merenungi selama tiga puluh menit (yah, emang sih terkadang aku membuang banyak waktu hanya untuk memikirkan hal-hal random . Huahahahhahaha..), aku sudah menemukan jawabannya. Jawaban itu pun aku temukan dari kejadian yang aku alami hari ini. Jadi ceritanya, hari ini aku pergi ke Transmart di kotaku. Rencananya sih buat beli sembako untuk keluarga yang aku tumpangi selama aku live in beberapa hari ini. Dan sebelum berbelanja, aku dan teman-temanku melewati lantai khusus wahana bermain, dan disitulah tiba-tiba pikiranku membawaku ke 6 bulan yang lalu. Ada segelintir perasaan menyesal yang membuat hatiku sedikit nyeri hingga aku pun ngomong dalam hati,...