Perbincangan Mengenai Hidup
Beberapa waktu ini, aku sempat mengobrol dengan beberapa orang mengenai 'hidup'.
Banyak sih pembahasannya, tapi mari kita mulai dulu part 1 dengan 'tujuan hidup'. Ha ha ha.
Aku ingat, di suatu malam, aku yang waktu itu lagi ngerjain salah satu tanggung jawab kuliah di ruang tengah, sambil ngeteh, dan si dedek yang juga sedang berkutat dengan tugasnya. Terus si dedek tiba-tiba ngomong, "Ci Keke, menurutmu kenapa ko harus hidup?"
Berhubung aku habis baca salah satu bukunya Mark Manson yang Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat, kujawabin lah pertanyaan si dedek dengan salah satu hal yang kutemukan di buku itu, "Yah saya hidup untuk menemukan kenapa saya harus hidup.", sambil tersenyum sok bijak.
Jawabanku tuh berasa kayak kalau difilmkan tuh alurnya bakal kayak gini: si Keke ngomong gitu malamnya, terus ketika si Keke menjalani hari-hari yang ia pikir tidak bermakna, kemudian satu-per-satu orang yang terlibat di dalam ceritanya ngomong ke dia dengan dramatis, 'Untung kamu hadir di hidupku, Ke.'. Lalu film ditutup dengan si Keke yang sedang menatap langit, dengan rambutnya yang ditiup angin, lalu tersenyum sumringah sambil ngomong, 'Akhirnya aku menemukan tujuan hidupku.'.
Dan seketika aku merinding membayangkannya kalau jadi film beneran. Semoga beneran nggak ada film kayak gitu, walau aku sebenarnya ngarep di kenyataan bakal ada scene kayak gitu hehehe.
Aduh, balik ke pembahasan awal. Ini kok malah ngelantur.
Yah sebenarnya jawabanku ini terkesan orang yang tidak punya tujuan yah? Hahaha...aku tidak akan membela diri bahwa aku sudah punya tujuan yang konkrit.
"Memang kamu tidak pingin bahagiain orangtuamu? Pingin jadi sukses? Pingin uang banyak?"
Menurutku kalau bahagiain orangtua itu tanggungjawab, sukses itu abstrak, pingin uang banyak...yah pingin, tapi tujuannya apa? Biar bisa foya-foya? Terus apa yang diharapkan dari bisa foya-foya? Bahagia? Yakin bahagia setelah foya-foya?
Ini kok malah debat.
Intinya, aku sendiri belum benar-benar menemukan tujuan yang menurutku konkrit atau spesifik.
Aku jadi keingat percakapan dengan salah seorang teman yang juga secara random menanyakan tujuan hidupku, dan kujawab saja, 'Hidup sebaik mungkin biar Yang Di Atas tidak menyesal ngasih aku hidup.'. Lalu dia kemudian mendebat jawabanku yang dia rasa tidak konkrit, dan kuabaikan saja dia hingga dia nyuruh aku baca bukunya Rick Warren. Sampai saat ini aku belum baca bukunya meski udah ku-download e-booknya hehehe.
Tapi ya sudah, aku mikir pada akhirnya selama aku menjalani hari-hariku, aku bakal nemu 'kepingan-kepingan petunjuk' untuk nemuin alasan secara konkrit kenapa aku harus hidup, dan tujuan hidupku apa. Setidaknya, ini yang menjadi alasanku buat hidup: nemuin 'kepingan' itu biar aku tau tujuannya apa. Kan sayang kalau misal aku memutuskan untuk mati hari ini, padahal bisa aja besoknya aku menemukan tujuan hidupku yang sebenarnya.
Aku juga beberapa kali mendengar keluhan yang disampaikan beberapa orang, dimana ia merasa stress karena tidak punya tujuan hidup dan merasa hidupnya stagnan gitu-gitu aja.
Sebenarnya aku bingung, karena aku merasa hidup ini sudah banyak bahan stressnya, kenapa harus nambah 1 materi untuk di-stress-in? Tapi nggak papa, wajar sebenarnya. Terkadang masyarakat membentuk persepsi kita untuk 'harus' memiliki tujuan hidup. Dan ketika kita tidak punya, kita berasa seperti sebuah anomali atau outlier, lalu malah jadi stress sendiri.
Terus mereka nanya lah ke aku (yang sebenarnya juga sedang mencari hahaha), "Gimana, yah biar bisa nemu tujuan hidupku?"
Mungkin kalau jawaban bijakku, sih dengan bikin list yang jelas, apa yang kamu inginkan dari hidup, mulai dari hal sederhana, lalu apa yang kamu harapkan dari hal-hal sederhana itu? Apa menjadi suatu hal yang lebih besar atau gimana? Lalu setelah ketemu bagian 'besar'nya itu, baru deh dibuat poin-poin cara untuk merealisasikannya secara realistis sekaligus perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk merealisasikan itu. Itu garis besar dari 'jawaban bijakku'.
Tapi kalau membutuhkan jawaban yang lebih sederhana, aku bakal jawab, 'Jalani aja.'
Seriusan.
Nikmati setiap momen yang kamu miliki sekarang, coba lakukan apa yang belum pernah kamu lakukan, misaaall...maling rumah orang? Barangkali kamu nemu passion jadi maling professional? Kok jadi sesat gini, sih. Tolong jangan ditiru.
Bisa juga dengan memperkaya relasi, mengobrol dengan orang lain yang latar belakangnya beda, usianya beda, biar kamu bisa nemu perspektif baru, dan barangkali kamu bisa mendapat insipirasi dari orang-orang itu, mengamati orang-orang sekitarmu, baca buku (aku sangat merekomendasikan buku-bukunya Mark Manson dan Viktor Frankl), nonton film (kadang kita bisa aja terinspirasi pingin jadi ini itu ketika nonton. Percayalah, aku mulai tertarik sama hal-hal berbau kejiwaan setelah nonton Kill Me Heal Me, meskipun sekarang kalau dihadapkan dengan situasi itu, aku kayaknya siap gak siap, deh. Siapnya kalau pasiennya seganteng Ji Sung hehehe).
Intinya, nikmati hari ini, kerjakan yang bisa kamu kerjakan, perjuangin apa yang pantas untuk diperjuangkan.
Kalau kata Pak Manson, hidup aja dulu hari ini, barangkali besok nemu jawabannya.
Eak.
Pak Viktor Frankl pernah bilang, manusia tuh harus punya tujuan hidup yang membuat dia ingin berjuang untuk hidup. Setidaknya meskipun tujuan hidupmu sekedar, 'Hidup karena pingin tahu aja aku sebenarnya bisa apa aja.', tapi setidaknya kamu memiliki alasan untuk tetap 'hidup' dan berjuang mencapai tujuan itu.
Mungkin kamu sedang dalam perjalanan sepertiku yang sedang mencari tujuan hidupmu apa. Tidak apa-apa, kalau kamu belum nemu 1. Mungkin besok kamu bakal nemu hal yang bener-bener pingin kamu perjuangin, minimal perjuangin kebahagiaanmu. Iya nggak?
Ingat, kalau bisa nggak nambah beban pikiran, jangan nambah beban pikiran sendiri.

Komentar
Posting Komentar