Grace dan Martabak Tengah Malamnya
Mungkin beberapa diantara kalian yang pernah baca tulisanku akan terheran-heran melihat judul tulisanku kali ini. Iyah, ini judul teraneh yang pernah aku bikin, tapi ya sudah ya, isi dari tulisan ini (harusnya) tidak seaneh judulnya kok. Aku bingung aja mau bikin judul apa buat tulisan ini, jadi aku bikin judul ini hahaha. Ya sudah, langsung aja ke ceritanya. Waktu itu, si Grace (a.k.a adekku) baru pulang ke Jayapura, kota asal kami. Grace itu mirip aku, nggak bisa diam aslinya. Bedanya, walau kami sama-sama nggak bisa diam, aku masih bisa beraktivitas di dalam rumah, sok-sok nyari kesibukan lah ceritanya walau hanya sekedar mondar-mandir ngambil air di dispenser-minum-ke toilet, yang penting gerak lah. Dan Grace nggak. Dia persis si Papa yang kalau nggak keluar rumah sehari, bisa kumat resenya. Suatu malam seusai doa rutin bersama kami, Grace dengan wajah sumringah- seolah mendapat pencerahan dari surga- ngomong ke aku, 'Ci Keke, ayok beli martabak.' Aku yang mendengar omonga...