Grace dan Martabak Tengah Malamnya

Mungkin beberapa diantara kalian yang pernah baca tulisanku akan terheran-heran melihat judul tulisanku kali ini. Iyah, ini judul teraneh yang pernah aku bikin, tapi ya sudah ya, isi dari tulisan ini (harusnya) tidak seaneh judulnya kok. Aku bingung aja mau bikin judul apa buat tulisan ini, jadi aku bikin judul ini hahaha.

Ya sudah, langsung aja ke ceritanya.

Waktu itu, si Grace (a.k.a adekku) baru pulang ke Jayapura, kota asal kami. Grace itu mirip aku, nggak bisa diam aslinya. Bedanya, walau kami sama-sama nggak bisa diam, aku masih bisa beraktivitas di dalam rumah, sok-sok nyari kesibukan lah ceritanya walau hanya sekedar mondar-mandir ngambil air di dispenser-minum-ke toilet, yang penting gerak lah. Dan Grace nggak. Dia persis si Papa yang kalau nggak keluar rumah sehari, bisa kumat resenya. 

Suatu malam seusai doa rutin bersama kami, Grace dengan wajah sumringah- seolah mendapat pencerahan dari surga- ngomong ke aku, 'Ci Keke, ayok beli martabak.'

Aku yang mendengar omongannya, sontak ngomong dengan setengah ngegas, 'Sudah jam berapa ini heeee?', sambil nunjuk jam di dinding kamar yang sudah menunjukkan jam setengah 12 malam. 

Sebenarnya, aku bukan tipe anak yang anti pergi tengah malam. Hampir semua orang yang kenal dekat aku, tahu rutinitasku di Surabaya biasanya adalah ngelembur di McD untuk nugas. Tapi sekarang aku di Jayapura. Selain karena di Jayapura nggak ada McD, aku juga tinggal bersama si Mama dan aku pun kudu pencitraan di depan orangtua. Minimal, mereka tahu anak mereka yang udah lama dilepas di kota orang adalah anak baik-baik yang nggak suka pulang-pergi malam, walau aslinya.....hahaha.

Mendengar balasanku, si Grace malah cengengesan, dan ngomong tanpa rasa berdosa sekalipun, 'Gapapa toh, saya lapar ini.'.

Aku lalu ngeliatin si Mama, berusaha mencari dukungan supaya bisa ngebujuk si Grace biar nggak bertingkah tengah malam, tetapi si Mama malah ngomong, 'Kalau mau beli, sekarang belinya, sebelum keburu malam.'

Ma, jam setengah dua belas malam apa masih belum termasuk malam?

Setelah perdebatan nggak penting antara aku dan adekku, diikuti oleh desakan si Mama untuk segera pergi biar si Mama bisa tidur dengan tenang,  akhirnya aku mengiyakan permintaan si dedek. Kami pun motoran memulai pencarian martabak kami. 

Di dekat kompleks rumahku, ada satu area yang memang banyak menjual makanan hingga tengah malam. Harusnya nggak susah lah ya untuk mencari martabak jam segitu, karena pada umumnya, di jam segitu orang-orang biasa memang mencari martabak. 

Sejujurnya, aku dan Grace lupa saat itu PPKM. Kami baru menyadari setelah melihat keadaan di area tempat jual makanan itu sepi, meski masih ada beberapa penjual yang nekat mencari nafkah. Menyadari adanya PPKM itu, kegiatan yang aku lakukan bersama si dedek malam itu nggak cuma sekedar mencari martabak, tetapi nge-challenge diri sendiri gimana caranya tetep dapat martabak tanpa digrebek sama satpol PP yang bertugas.

Aku ingat saat itu aku dan Grace menghampiri satu per satu tukang martabak yang masih buka, dan menanyakan mereka apa masih ada martabak telor, dan mereka menjawab cuma tinggal terang bulan (a.k.a martabak manis).

Setelah penjual keempat yang kami hampiri, aku akhirnya ngomong ke Grace, 'Grace, ko nggak mau terang bulan saja kah?' dengan harapan, biar kami segera pulang. Udah malem juga. Eh ralat. Tengah malem.

Tapiiii... si Grace dengan entengnya ngomong, 'Nggak mau Ci Keke. Saya maunya martabak (telor). Kita cari di tempat lain sudah.'.

Untung saat itu yang nyetir motor dia. Kalau aku, mungkin udah kutinggal dia. Dan saat itu di kepalaku udah ada skenario, kalau si Mama nanya, kenapa Grace nggak pulang, aku bilang aja aku lupa kalau aku punya adek.

Jadi, kami kembali menyusuri tukang martabak sekitar. 

Hingga di tukang martabak keenam yang kami datangin, aku mulai nyerah dan bilang ke si Grace kalau aku mau pulang aja. Bodo amat lah dia jadi rese karena lapar, yang penting aku mau pulang dan ngerjain tugas.  Tapi karena si Grace yang bawa motor, dia masih keukeuh untuk nyari. Aku diam aja, karena sejujurnya aku sudah bete. Dan takut akunya yang malah diturunin sama dia karena nggak mau kooperatif nemenin dia nyari martabak.

Untungnya, nggak jauh dari penjual martabak keenam itu, kami menemukan penjual martabak lainnya. Kami pun berhenti di depan gerobaknya, dan itu merupakan tukang martabak ketujuh yang kami temui malam itu. Saat itu, kami melihat adanya secercah harapan bisa mendapat martabak dengan masih terpajangnya beberapa telur ayam dan telur bebek di gerobaknya. 

"Ci Keke, ini yang terakhir deh. Kalau nggak ada, yaudah kita pulang aja." kata si Grace sebelum aku nyamperin tukang martabaknya untuk nanya ketersediaan martabaknya. Sebenarnya Grace nyadar akunya udah keliatan bete diajak muter-muter tengah malam sama dia, tapi dia tahu cecenya walau lagi bete banget, dibaik-baikin dikit udah jadi lembek lagi. Lemah emang.

Dan ternyata...masih ada.

Akhir cerita, si Grace dapat martabaknya, dan dia nggak jadi rese malam itu, meski dia jadinya nggak nugas malam itu karena langsung tidur setelah makan hahaha...

Dari cerita ini sederhananya aku mau ngomong sih, 'Kita nggak pernah tahu apa yang akan kita dapatkan setelah kita mengerahkan semua usaha yang kita bisa.'

Aku dan Grace sejujurnya nggak pernah membeli martabak di penjual ketujuh, dan aku juga awalnya pesimis disitu masih ada yang jual martabak mengingat di tempat-tempat sebelumnya pun, sudah habis martabaknya.
Seandainya dari awal Grace dengerin aku yang udah menghasut dia buat pulang aja, dia bisa saja nggak dapat martabaknya malam itu dan malah jadi rese karena nggak puas belum dapat martabaknya. Kami juga nggak bakal tahu ternyata ada martabak lain yang sambalnya enak selain martabak langganan kami, meskipun martabak disitu berminyak sekali (tapi kayaknya itu yang bikin enak martabaknya deh hahaha).

Akan tetapii...bisa aja setelah kita usaha, kita nggak dapat hasil yang kita mau. Toh namanya hidup, nggak selalu bisa provide apa yang kita inginkan, yakan?
Cuma setidaknya, kita nggak penasaran dan nggak nanya ke diri sendiri, 'Gimana yah kalau aku usaha lebih lagi? Apa bisa dapat hasil yang lebih baik?' lalu mulai menyalahkan diri sendiri yang merasa masih kurang usaha. 

Mungkin saat itu si Grace bisa aja nggak dapat martabaknya, tapi paling tidak, ketika dia tahu memang dimana-mana udah nggak ada martabak yang dia cari, dia bisa pulang dengan lebih legowo, meskipun barangkali di rumah aku bakal ngomel-ngomel, 'Kan udah dibilangin mending nggak usah nyari-nyari lagi.' Maklum, cece banyak protes yah gini.

Oke baik, sekian cerita Keke di malam ini. Agak nggak penting, tapi ya sudah. Yang penting aku udah posting sesuatu di bulan ini hahaha. 

Oh ya, jangan lupa berterima kasih ke diri sendiri yang sudah berusaha sebisanya meskipun belum dapat hasil yang diinginkan. Barangkali, apa yang diusahakan saat ini, impactnya akan didapatkan nanti. Yang penting udah usahanya dulu hehehe.

Komentar

  1. Favorit banget sihhh����������❤❤❤

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

If it belongs to you, it will be yours.

Kamu dan Kenangan di Hari Kemarin

Tentang Dia dari Tiga Tahun yang Lalu