Tentang Dia dari Tiga Tahun yang Lalu
Kata si Mama (dan mungkin kata orang-orang lain), 'Kamu tidak akan pernah menduga takdir akan membawamu ke mana, dan kepada siapa.'.
Aku ingat kata-kata itu keluar ketika kami membicarakan mengenai jodoh dan pikiran skeptis-pesimisku mengenai menemukan pasangan, hingga aku nyeletuk kepada si Mama,
'Ma, kalo saya nggak nikah, nggak papa ya?'
Meskipun si Mama responnya,'Yahh..yang penting kamu bahagia.' dengan wajah datar, tetap aja kata-kata akhirnya,
'..tapi kalo bisa menikah lah Ke. Mama pinginlah ada laki-laki yang bisa jaga kamu.' yang kemudian dilanjutkan dengan perdebatan nggak penting kami. Topiknya adalah aku yang ngotot untuk hidup berdikari, dan si Mama yang optimis aku bisa menemukan sosok yang tepat dengan mengeluarkan kutipan yang aku ketik di awal tadi.
Untungnya, beberapa bulan setelah obrolan dengan si Mama, dia mengajakku telponan bareng dengan embel-embel, 'ingin curhat'.
Iyah, dia yang pada akhirnya bisa membuat si Mama menjadi cukup lega karena setelah dekat dengannya, anak keduanyanya ini nggak ngotot lagi pingin berdikari, meskipun malah membuat bahan pikiran baru bagi si Mama: kapan anak keduanya ini pensiun sebagai 'beban orangtua?' hahaha.
Ma, padahal anakmu ini senang jadi beban orangtua.
Nggak nggak, bercanda.
Yahhh...meskipun bahan pikiran si Mama ini mungkin belum terjawab dalam waktu dekat, setidaknya dengan kehadirannya, si Mama lebih tenang anaknya sudah menjalin hubungan yang serius. Dengan dia yang mengajak aku bertemu keluarganya sehari setelah kami bertemu setelah 3 tahun tidak berjumpa, dan dia yang bertemu orangtuaku di hari pertama mereka datang ke Surabaya, sudah cukup menjadi gambaran niatnya.
Mungkin benar kata si Mama, aku nggak bakal tahu kepada siapa aku akan dipertemukan, dan takdir memang selucu itu dalam mempertemukan dua orang.
Mempertemukan kami yang sedari 3 tahun lalu hanya menjadi penonton story instagram, dan sekedar teman curcol tengah malam ketika kami kebetulan masih online dan butuh teman ngobrol.
Nggak ada dari kami yang menyangka, kalau pada akhirnya kami nggak lagi sekedar menjadi penonton story instagram satu sama lain, tetapi 'naik pangkat' menjadi pemeran dalam story hidup satu sama lain; bukan lagi sekedar teman curcol tengah malam, melainkan teman bercerita yang ada kapanpun kami butuh.
Aku jadi teringat masa-masa ketika kami bercerita mengenai kabar satu sama lain -yang kadang berakhir aku curhat kepadanya, sesekali muncul perasaan kagum pada dirinya. Bahkan saking kagumnya, aku pun sampai di titik dimana aku ngomong ke diri sendiri, 'Udah Ke, kamu memang bisanya kagum aja, nggak usah lebih.'. Nggak usah, karena dia adalah 'cowok ideal' untukku yang terlalu realistis, atau malah pesimis? Hahahaha.
Emang lucu takdir itu.
Dan mungkin untukmu yang belum bertemu partnermu.. percayalah, takdir mungkin bakal mengarahkanmu pada orang yang tidak akan kamu sangka, dengan caranya yang lucu.
Cheesy yah?
Tapi memang begitulah. Biarkan takdir yang bekerja, kitanya bagian menjalani hari dengan baik.
Komentar
Posting Komentar