Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Rumah Kaca

                        Aku masih menyeruput kopi hitamku sambil terus mendengarkan lawan bicara di depanku berceloteh panjang lebar.          “Jujur, aku semakin tidak paham dengan dunia sekarang,” ujarnya. Nadanya masih tinggi. “Coba deh kamu perhatiin. Orang-orang semakin terkotak-kotak. Entah berdasarkan ras atau agamanya.” Aku mengangguk, membiarkan dia melanjutkan kata-katanya. “Apa pendapatmu?”             “Kamu sendiri kenapa berasumsi demikian?” tanyaku sambil menatapnya.             “Kamu lihat sendiri deh. Contoh paling dekat, di Indonesia. Kemarin ada gubernur. Dia dicaci maki oleh segelintir orang yang begitu mencintai kepercayaan yang dianutnya sehingga menghilangkan akal sehatnya sendiri. Contoh yang jauh, di luar sana masih ada kaum minoritas yang direndahkan, dit...