Rumah Kaca
Aku masih menyeruput kopi hitamku sambil
terus mendengarkan lawan bicara di depanku berceloteh panjang lebar.
“Jujur,
aku semakin tidak paham dengan dunia sekarang,” ujarnya. Nadanya masih tinggi.
“Coba deh kamu perhatiin. Orang-orang semakin terkotak-kotak. Entah berdasarkan
ras atau agamanya.” Aku mengangguk, membiarkan dia melanjutkan kata-katanya.
“Apa pendapatmu?”
“Kamu
sendiri kenapa berasumsi demikian?” tanyaku sambil menatapnya.
“Kamu
lihat sendiri deh. Contoh paling dekat, di Indonesia. Kemarin ada gubernur. Dia
dicaci maki oleh segelintir orang yang begitu mencintai kepercayaan yang dianutnya
sehingga menghilangkan akal sehatnya sendiri. Contoh yang jauh, di luar sana
masih ada kaum minoritas yang direndahkan, ditindas. Apa itu tidak cukup
menjadi contoh bahwa dunia ini sekarang begitu terkotak-kotak?” jawabnya dengan
nada berapi-api.
“Mungkin
itulah mengapa prinsip ’yang kuatlah yang bisa bertahan hidup.’ ada,” ujarku.
“Plis
Yo, ini bukan di hutan,” balas gadis tersebut, terlihat tidak puas dengan
jawabanku. Aku sendiri sebenarnya tidak begitu peduli dengan topik yang dibahas
gadis tersebut. Aku hanya memperhatikannya berbicara karena, aku suka.
“Yah
anggaplah kita di hutan. Toh, Bapak Darwin juga mengatakan bahwa nenek moyang
kita merupakan keturunan kera,” celetukku. Sebenarnya, tujuanku agar emosi dari
gadis itu tidak meluap-luap lagi, yah menetralisir suasan lah dan meminimalisir
kemungkinan adanya pengrusakan properti di sekitar kami, karena ini warung kopi
orang lain, bukan warung kopi kami berdua. Tapi tampaknya aku gagal. Gadis itu
tampak tidak suka dengan jawabanku.
“Aku
bercanda kok,” ralatku segera, sebelum gadis itu lebih mengamuk lagi.
“Yuk
pulang,” ujarnya sambil mengambil helm di sampingnya. Aku mengikutinya berjalan
keluar warung kopi, pulang.
*****
Sebenarnya,
aku bukan tipe orang yang tertarik untuk mengkritisi atau meneliti isu-isu yang
ada di dunia. Menurutku, cukuplah aku mengatur hidupku sendiri dan tidak perlu
kucampuri urusan orang lain. Lagian, aku juga tidak mendapat untung apapun
dengan memikirkan masalah-masalah orang lain. Namun gadis itu, ya, gadis yang
semalam bersamaku di warung kopi itu, begitu tertarik mengenai isu-isu yang ada
di dunia. Mungkin itu salah satu faktor yang membuatnya mengambil jurusan
Psikologi, walau sebenarnya aku merasa ia sebaiknya mengambil jurusan Hukum saja.
Kalau aku, aku sendiri dari Teknik Kimia. Singkatnya, kami bertemu dalam suatu
perlombaan debat yang diadakan oleh kampus. Aku sebenarnya tidak suka berdebat,
hanya saja tidak ada perwakilan dari jurusanku. Teman-temanku lebih suka
meneliti sesuatu yang pasti dibandingkan mendebatkan hal yang tidak pasti. Dan
akhirnya, kami mengobrol singkat, dan menurutku itu adalah suatu hal yang
terjadi secara kebetulan. Hingga entah mengapa aku tertarik padanya. Entah dari
cara berpikirnya, atau karena dia berbeda dari wanita-wanita di luar sana yang
kebanyakan hanya mempedulikan bagaimana cara merawat dan mempercantik diri.
Dibandingkan membahas bagaimana Kylie Jenner bisa memiliki bentuk bibir yang
seksi, dia lebih memilih untuk membahas mengenai ‘apartheid’ yang masih terjadi
di dunia saat ini. Walau banyak hal yang dia ceritakan padaku yang tak
kupahami, aku tetap senang mendengarkannya. Dan sekalipun hal-hal yang dia
ceritakan padaku tidak menarik, namun karena dia yang menceritakannya, entah
mengapa aku masih bisa fokus dan memperhatikannya.
“Gila
kamu, Yo. Masih aja jalan sama Clara,” ujar Dimas tiba-tiba. Aku menoleh ke
arahnya.
“Kenapa
emangnya?” balasku bertanya.
“Kamu
tau sendiri Clara tuh dari keluarga mana,” jawabnya, lalu duduk di sampingku.
“Orangtuanya ketat banget, cuy.”
“Ho.”
Aku meresponnya singkat, kembali melanjutkan main Mobile Legends.
“Serius
nih aku Yo,” katanya sambil memandangku.
“Memang
aku nganggap kamu bercanda?” balasku menatapnya. “Apa sih yang salah kalau aku
ngejar Clara?”
“Maksudnya
loh, kamu cari target yang sekiranya itu setara denganmu lah.”
“Bentar.
Jadi maksudnya aku gak setara dengan Clara? Setara apanya nih? Aku yang lebih
rendah dari Clara, atau Clara lebih rendah dari aku?” tanyaku mengklarifikasi.
Sebenarnya aku tahu bakal kemana arah obrolanku dengan Dimas ini.
“Yah,
kau tahu lah maksudku. Bukan setara yang jelek atau gimana. Ini dari
pandanganku aja. Kamu lihat Clara dari etnis mana, kan?” tanya Dimas,
memperkecil suaranya.
“Terus
kenapa kalo aku sama Clara nggak satu etnis? Kan kita masih satu jenis, homo sapiens. Dia manusia, aku manusia.
Dan lagi, kita juga loh beda gender.
Aku cowok, dia cewek,” jawabku santai.
“Yee,
bukan gitu maksudnya Yo. Tapi kamu nggak pernah dengar sendiri kalo orangtua
Clara itu ketat soal pacaran beda etnis. Si Yoga aja nyerah ngejar Clara karena
orangtuanya Clara mati-matian nolak Clara untuk sama si Yoga.”
“Si
Yoga kan, memang gak bener anaknya Dim. Kalo aku orangtuanya Clara juga aku
nggak bakal setuju lah. Bisa dibawa kabur anakku nanti kalo pacaran sama dia,”
balasku lagi.
“Ah,
terserah kamu deh Yo,” ujar Dimas. Rasanya dia sudah menyerah ngomong denganku.
Aku hanya tertawa kecil.
Sebenarnya,
aku memahami apa yang dikatakan Dimas. Benar, aku dan Clara berbeda etnis. Tak
perlu menyebutkannya, yang jelas, kami berbeda. Beberapa orang menyebut kami
‘kopi-susu’. Jelas aku yang kopinya, bukan Clara. Telingaku sudah terbiasa
mendengar omongan orang-orang ketika mendekati Clara. Namun Clara juga tampak
tak peduli sehingga aku maju terus. Selain itu, saudara-saudaraku pun ada yang
pada akhirnya menikah dengan etnis yang berbeda dengan mereka, dan mereka
baik-baik saja. Lalu, apa yang membedakanku seandainya aku pun bersama Clara?
*****
Sore
itu, gadis itu mengajakku keluar. Aku kembali mengingat bagaimana awal kami
bisa jalan bersama. Oh, membahas soal materi debat waktu itu. Padahal debatnya
sudah lewat, akan tetapi gadis itu masih ingin membahasnya lebih lanjut. Ha ha
ha. Dan hari ini, dia mengajakku keluar. Mungkin karena ada sesuatu yang ingin
ia bahas, atau bisa saja karena dia memang sedang senggang dan ingin keluar.
Hawa
udara sore itu sejuk. Kami memilih untuk nongkrong di sebuah café di daerah Untung
Suropati dan memilih duduk di luar agar bisa merasakan semilir angin. Ia seperti
biasa memilih ice mochacinno dan aku
memilih es teh manis. Ia mengamat-amati interior café tempat kami akan
menghabiskan waktu. Ada beberapa jenis tanaman yang menghiasi bagian luar café
tersebut. Beberapa tanaman juga menggantung di dinding temboknya. Jendela café
berbentuk persegi panjang besar yang berderet membuat café ini terlihat selayaknya
seperti rumah kaca modern, terutama karena bagian dalam café pun memiliki cukup
banyak tanaman yang menghiasinya.
“Yo,
kamu ngerasa nggak sih, kita itu seperti di suatu rumah kaca?” Tiba-tiba gadis
itu bertanya. Ia menatap minumannya sambil menggerak-gerakkan sedotannya.
“Rumah
kaca?” tanyaku, tidak paham.
“Aku
pernah ngomong kan sama kamu. Kita itu kayak di rumah kaca. Terlalu terbatas.
Tanaman di rumah kaca juga tidak banyak. Jadi kalo diibaratkan dengan tanaman
yang berada di rumah kaca, kita ini seolah cuma tau beberapa jenis orang
tertentu,” ujarnya panjang lebar.
“Kenapa
kamu berpikir begitu?” tanyaku.
“Nggak
tau yah, cuma tiba-tiba aku berpikir begitu,” katanya.
“Apa
karena kita di tempat yang seperti rumah kaca ini, kamu berpikir demikian?”
tanyaku, sebenarnya sih niatku bercanda.
“Mungkin
yah,” jawabnya kembali menikmati minumannya. Lalu kami terdiam.
“Btw,
kenapa kamu akhir-akhir ini seneng banget bahas soal perbedaan-perbedaan?”
“Entahlah,
aku hanya suka saja,” ujarnya.
“Apa
menurutmu suatu perbedaan yang jelas di mata orang-orang dapat disatukan?”
tanyaku.
“Maksudmu?”
Dia menatapku.
“Yah,
kamu sendiri merasa apakah perbedaan yang ada di antara masyarakat sekarang
bisa disatukan?” tanyaku lagi. Gadis itu tampak berpikir sebentar.
“Sulit,
tapi bukan berarti tidak mungkin,” ujarnya.
“Kamu
sendiri akan menerima perbedaan itu?” tanyaku padanya.
“Kalo
aku iya,” ujarnya. “Memangnya kenapa?”
”Clar,
kalau misalnya kita ‘bersama’ gimana?” tanyaku tiba-tiba. Entah hal apa yang
mendorongku hingga aku mengatakannya. Dan ketika kulihat gadis itu, gadis itu
telah menatapku. Dengan ekspresi bingung yang sangat jelas dari wajahnya.
“Maksudnya
Yo?”
“Emm..kamu
mau nggak pacaran denganku Clar?” tanyaku lagi. “Walau aku nggak bisa
memungkiri, kita berbeda.”
“Ini
beneran kamu serius?”
“Masa
aku nggak serius sih,” ujarku sambil setengah tertawa, biar suasananya nggak
kaku-kaku amat. Aku mencoba memandang gadis itu dan nampak ia
menimbang-nimbang. Sebenarnya aku menyesali dua hal: aku nembak tanpa persiapan
dan yang kedua nembakku sama sekali gak romantis.
“Walau
di buku Myers bilang kalau perbedaan bisa melahirkan perasaan tidak suka dan
konflik karena adanya perbedaan sudut pandang dan latar belakang, Tapi aku mau
coba deh,” ujarnya sambil tersenyum.
“Sungguan?”
tanyaku, shock.
“Masa
aku nggak serius sih,” jawabnya meniru apa yang kuucapkan, kemudian kami
tertawa bersama. Hari itu aku benar-benar merasakan sesuatu yang sangat manis
menyentuh hatiku dan membuat aku tidak bisa berhenti tertawa. Mungkin karena
kami saat itu belum mengetahui apa yang menunggu kami di depan.
*****
Hari-hari
kami pasca ‘nembak-dadakan’ tersebut sebenarnya berlangsung seperti biasa.
Gadis itu masih sering mengajakku makan duluan. Mungkin yang berbeda adalah
dari intensitas kebersamaan kami pun yang menjadi lebih sering dibanding yang
sebelum-sebelumnya. Clara juga masih sering menceritakan berbagai hal dengan
panjang lebar. Tidak ada yang tampak salah dari hubungan kami. Tapi mungkin
hari itu aku mulai membuka mataku perlahan.
“Yo,
nyadar gak sih kalau kamu dibicarain sama anak-anak lain?”
“Hah?”
Aku menatap Dimas tidak paham. Baru juga mau menikmati istirahat pergantian
mata kuliah sudah diajak ngobrol ginian.
“Semenjak
kamu sama Clara,” ujarnya.
“Memang
kenapa dengan kami berdua?” jawabku.
“Karena
yang aku ngomongin beberapa hari yang lalu Yo,” balasnya. “Kalian berdua beda.
Beda banget. Aku berusaha membelamu sih Yo, soalnya yah kamu dan aku sama
etnisnya. Tapi anak-anak belum tentu memandang gitu ke kalian. Terutama
beberapa cewek tuh yang satu etnis sama Clara. Nggak tau apa yang ada di
pikiran mereka Yo. Aku juga nggak paham sama pemikiran mereka.”
“Aku
lebih nggak paham sih Dim,” balasku dengan setengah tertawa. “Ada apa dengan
perbedaan?”
“Kamu pernah dengar istilah ‘birds of a feather do flock together’? Burung akan berkumpul dengan kawanan
burung yang memiliki kesamaan bulu dengannya. Manusia juga gitu. Memilih untuk
bersama dengan manusia lain yang memiliki kesamaan dengannya. Itulah yang
membuat perbedaan terkadang tidak diterima. Karena kita dari dulu sudah punya
pandangan seperti itu,” ujar Dimas panjang lebar. Aku termenung, dan aku merasa
hal itu benar.
“Tapi aku dukung kamu kok Yo. Jalani aja. Toh itu
sudah pilihanmu,” ujarnya lagi sambil menepuk pundakku. Aku menatapnya
tersenyum seolah ngucapin ke dia,’Makasih Dim. Kamu udah nyadarin aku dengan
pandangan dunia selama ini.’
******
Beberapa bulan berlalu dan kami
berusaha menutup mata dan telinga kami terhadap pandangan-pandangan orang di
sekitar. Aku tidak memahami kenapa orang-orang begitu peduli dengan adanya gap etnis dan ras yang ada diantara kami
berdua. Mungkin hal itu yang paling terlihat mata dibandingkan hal-hal lainnya.
Hingga suatu malam, Clara mengajakku
keluar. Agak malam. Sekitar jam 10 malam. Sebenarnya ini agak tumben karena
Clara tergolong orang yang jarang keluar malam, kecuali ngerjain tugas. Dan
kali ini, Clara mengajakku keluar hanya untuk sekedar ngobrol. Aku tau pasti
ada sesuatu yang berbeda dengannya. Kami lalu memilih untuk nongkrong di
McDonald’s daerah Manyar dan memesan french
fries large dengan matcha coffee dan
1 lemon tea ukuran large. Setelah
memesan, kami mengambil tempat di kursi yang berada di samping jendela. Clara
menaruh nampannya dan mulai menyenderkan kepalanya di jendela. Dia tidak
langsung bicara seperti biasa. Ia terdiam beberapa saat, lalu menarik nafas
panjang. Aku hanya memandangnya, menunggunya berbicara. Dia mengambil beberapa
buah french fries dan mengunyahnya
sambil sesekali menatap jendela. Terlihat dia gelisah, tapi aku masih tetap
menunggunya sampai dia berbicara. Namun tampaknya memang aku yang harus memulai
perbincangan ini.
“Kenapa Clar?” tanyaku. “Mikirin
sesuatu yah?”
“Iyah. Aku bingung sebenarnya Yo,”
jawabnya.
“Kenapa memangnya?”
“Orangtuaku nggak setuju dengan
hubungan kita,” balasnya, tidak menatapku.
“Kenapa orangtuamu tidak setuju
dengan hubungan kita?” tanyaku lagi
“Karena kata mereka, kita berbeda
Yo,” kata Clara lirih. Berbeda lagi. Ada apa, sih dengan kata berbeda ini?
Kenapa dengan perbedaan lagi? Sebenarnya hal itu cukup menyakitkanku. Ternyata
apa yang diperingatkan Dimas benar, dan ini memang karena satu hal: Perbedaan.
Tapi aku berusaha untuk tidak terlihat shock
dan lain sebagainya karena kulihat dari wajah Clara, ia juga bingung. Jadi
harus ada sosok yang tenang, yang masih berpikiran rasional untuk memecahkan
masalah ini.
“Memang kenapa kalau kita berbeda?”
tanyaku kembali. Clara diam sejenak. Kemudian dia mendesah.
“Aku juga tidak paham Yo. Aku sudah
bilang, mungkin karena kita memang terlahir dengan dunia yang terkotak-kotak.
Di dunia yang juga telah terbiasa dengan membeda-bedakan manusia sejak dahulu
kala dengan membagi-bagi kasta. Aku tahu, mungkin di dalam keluargaku
pikirannya masih kuno, masih membeda-bedakan. Tapi aku bisa apa Yo? Keluargaku
mungkin tidak terbiasa dengan sesuatu yang berbeda,” balas Clara, dan kali ini
kulihat genangan bening siap meluncur dari pelupuk mata indah gadis itu.
“Aku sebenarnya tahu bakal gini kok,”
ujarku, berusaha terlihat tetap tenang.
“Lalu? Kenapa kamu nekat nembak aku
di saat kamu juga sebenarnya tahu endingnya
bakal gimana?”
“Karena mungkin sebenarnya aku mikir
orang-orang bakal berubah pola pikirnya. Mungkin pikiranku terlalu sempit kali,
ya? Aku berpikir bahwa orang-orang bisa seterbuka kita. Ternyata pandangan
orang tidak semudah itu untuk diubah,” jawabku, dengan senyum getir. Kami
melanjutkan malam itu dengan hening yang panjang dan tak banyak obrolan yang
kami lakukan. Rasanya hari itu merupakan hari yang mendung untuk kami berdua.
*****
Mungkin memang kita hidup di dunia
yang sudah mengotak-ngotaki manusianya. Membagi manusia dalam
kelompok-kelompok. Mungkin dunia ini memang seperti ‘rumah kaca’. Tempat yang
membuat ‘nyaman’ makhluk hidup di dalamnya sehingga enggan untuk keluar dan
menghadapi zona yang lebih luas. Mungkin rumah kaca adalah kelompok-kelompok di
sekitar kita. Terkadang, kita merasa terlalu nyaman berada di dalam kelompok
atau ‘rumah kaca’ kita sehingga kita enggan untuk melihat hal yang lebih luas,
dan kemudian, lahirlah asumsi-asumsi yang menolak perbedaan. Mungkin tidak
semua orang hidup di dalam rumah kaca. Dan orang-orang yang hidup di luar rumah
kaca itu adalah orang-orang yang lebih berjuang. Berjuang untuk beradaptasi
dengan lingkungan yang lebih luas.
Aku dan Clara sebenarnya tidak
putus. Setelah malam dimana dia mengatakan padaku bahwa orangtuanya tidak
setuju, kami tetap sepakat untuk melanjutkan hubungan kami, walau itu artinya,
kami harus lebih keras lagi dalam menutup mata dan telinga kami terhadap segala
omongan orang mengenai perbedaan kami. Mungkin kami harus lebih keras lagi
membuktikan pada orang-orang lain, walaupun dari luar kami berbeda, kami
memiliki hal-hal yang bisa menyatukan kami dari dalam. Clara juga tahu bahwa
teman-temannya pun menggunjingkan kami di belakang, tapi kami berpikir, memang
hidup di luar ‘rumah kaca’ lebih berat. Tapi kami tahu, kami bakal kuat. Kami
bakal lebih kuat dibandingkan orang-orang yang berada di rumah kaca mereka. Dan
beginilah kami sekarang. Bahagia atas apa yang membedakan kami. Mungkin apabila
kamu punya pengalaman yang sama, kita bisa saling berbagi, dan juga menguatkan.
He he he.
Komentar
Posting Komentar