Our Own Happy Part
Beberapa waktu ini aku mendengar kabar yang menurutku merupakan kabar bahagia dari teman-temanku.
Ada yang pada akhirnya move on setelah gagal berkali-kali dan menemukan orang yang menurutnya lebih baik dari sebelumnya, padahal ia dahulu meyakini mantannya adalah orang terbaik yang pernah ia miliki.
Ada yang pada akhirnya bisa menemukan seseorang yang bisa ia ajak serius setelah berulang bertahun-tahun terus terjebak dalam hubungan friendzone.
Ada yang pada akhirnya bersama orang yang sudah ia dekati bertahun-tahun meskipun perjuangan untuk mendekatinya tidaklah mudah bahkan butuh penolakan berkali-kali.
Ada yang akhirnya bisa menjalin hubungan serius setelah trauma yang ia alami beberapa tahun lalu bersama mantan pacarnya.
Ada yang pada akhirnya menemukan laki-laki yang benar-benar tulus memperhatikan dan menyayangi dirinya, padahal awalnya dia dulu sudah enggan berpacaran karena dulunya memiliki berbagai pengalaman buruk ketika berpacaran.
Dan banyak cerita lainnya.
Entah bagaimana hubungan mereka selanjutnya, aku tidak paham. Tapi yang aku yakini, saat ini mereka ada di bagian yang membahagiakan dalam hidupnya.
Happy part dalam hidup memang tidak melulu soal relasi berpacaran atau relasi intim dengan lawan jenis (mungkin yang ini lebih ke arah PDKT atau HTS.Hahahahah..), tapi biar tercapai tujuan aku nulis hari ini, aku mau kerucutkan pada bagian soal relasi ini saja.
Kalo kalian melihat pola dari cerita di atas, kalian pasti menyadari bahwa hal yang sama pada cerita-cerita tersebut adalah, sebelum mereka memiliki happy partnya, ada hal yang justru harus mereka perjuangkan atau bahkan membuat mereka sendiri struggle dengan keadaannya. Apakah awalnya mereka berpikir akan sebahagia sekarang? Setelah kutanya, yah ndak juga. Mereka tidak berharap banyak awalnya, tapi yang mereka lakukan adalah keep going. Ada yang malah pesimis untuk bisa lepas dari masa lalunya, bahkan mengatakan tidak akan berpacaran lagi, tapi toh akhirnya meskipun pesimis, ia tetap berusaha menjalani hidupnya dengan baik, dan pada akhirnya dia menemukan orang baik lain yang bisa membuatnya yakin untuk menjalin hubungan lagi.
Sedikit cerita dari si Papa.
Si Papa pernah gagal menikah, padahal ia sudah berpacaran dengan calonnya waktu itu selama 8 tahun. Apakah si Papa hancur? Jelas. Si Papa cerita, dulu setelah gagal nikah, si Papa jadi suka mabuk-mabukan. Tapi suatu ketika, kakaknya si Papa ngasih pekerjaan di pedalaman. Si Papa yang sudah terbiasa keluar-masuk hutan pun menerima, karena mayan, uangnya gede. Si Papa mengakui hingga saat ini, kalau si Papa pun nggak nyangka bisa bertemu wanita baik lain selain mantannya itu, dan lebih nggak nyangka lagi karena bertemunya di pedalaman. Si Mama ceritanya dulu ke pedalaman karena ikut misi dari gereja, dan karena si Mama jiwa petualangnya gede, ketika ditawarin oleh kakaknya si Mama, si Mama semangat ikut. Si Mama pun nggak menyangka bakal bertemu jodohnya disana, padahal kalau dipikir baik-baik, kemungkinan Mama bertemu jodoh di Bandung pun sangat besar, karena logikanya, Bandung adalah kota besar juga. Mama pun mengakui sebelum ke pedalaman ia didekati oleh cowok yang cukup memenuhi kriterianya. Tapi kenapa harus di pedalaman baru ketemunya? Memang kata orang, 'Skenario Tuhan nggak ada yang tahu.'. Tapi aku cerita ini bukan untuk membuat kalian mulai berpikir untuk pergi ke pedalaman untuk mencari jodoh hahahaha..
Intinya, si Papa dan si Mama akhirnya memiliki happy partnya dengan cara yang sama sekali tidak mereka pikirkan sebelumnya.
Aku menulis ini bukan memukul rata semua happy part dalam relationship itu akan diawali dengan penderitaan, kesedihan, dan sebagainya. Nggak. Tapi seandainya kamu saat ini sedang berjuang, untuk move on, mendekati seseorang yang tampaknya sulit untuk diraih, atau belum menemukan orang yang benar-benar sreg untuk diajak serius, keep going aja, hiduplah dulu untuk dirimu dan tidak sia-siakan itu. Yakin aja kalau sedihmu saat ini tidak akan bertahan lama, karena akan ada hal lain yang bisa membuatmu bahagia. Kamu nggak bakal menyangka situasi apa yang bakal diberikan oleh si Pencipta kepadamu untuk menemukan happy partmu.
Dan meskipun kamu juga nggak tahu kapan diberikan happy partmu, tapi percayalah, happy partmu bakal ada, kok walauuu..mungkin memang bentuknya tidak selalu berupa pasangan. Bisa saja kamu dipertemukan dengan banyak orang baik yang bisa menjadi sahabat-sahabatmu kelak, atau menemukan orang lain yang bisa memberimu suatu pelajaran berharga dalam hidup. Jadi, tetaplah jalani hidupmu dengan baik, perluas relasi, dan mencoba berbagai hal baru yang positif, karena bisa aja situasi-situasi tidak terduga mengantarkanmu pada happy partmu.
Teruslah berkelana, carilah teman, kumpulkan pengalaman, buatlah cerita yang indah ataupun sedih dalam perjalanan itu. Kelak suatu hari nanti kamu akan menemukan Happy Part dalam hidupmu :) , tapi perlu kamu tahu bahwa cinta itu ketika semua yang kamu inginkan untuk dia adalah "Bahagia" meskipun kamu tidak menjadi bagian dalam kebahagiaan itu.
BalasHapusAyo upload tulisan yg baru lagi keke(yi). Fighting!!
BalasHapusTerima kasih susah menulis ini :)
BalasHapus