First Step: Love Yourself!
Tapi emang Tuhan itu baik. Ia tampaknya mengarahkanku untuk mengevaluasi satu hal penting dalam diriku : self-love. Huahahhahahaha...
Memang selama beberapa hari ini aku ngerasa kalau aku cukup sering merasa insecure dalam diriku sendiri sehingga self-love adalah hal yang sulit kulakukan, apalagi aku ngerasa luka yang aku pernah alami juga sedikit banyak memengaruhiku dalam mencintai diriku sendiri.
Contoh aja nih, ketika menjalin hubungan, aku nggak jarang merasa aku bukanlah pacar yang baik untuk pasanganku. Banyak pikiran negatif yang ada di kepalaku ketika menjalin hubungan dengannya.
Di sekeliling dia loh banyak cewek. Gimana seandainya kalo ada cewek cantik yang menarik perhatiannya padahal aku yah nggak cantik juga?Cowok kan makhluk visual.
Dia kok jarang ngajak ketemuan, yah? Memang aku nggak seasyik teman-temannya, sih.
Dia kok balas chatnya lama? Bosen sama aku kali yah.
Dan berbagai pikiran lainnya yang akhirnya membuatku stress, overthinking, dan berakhir insom selama beberapa waktu.
Akhirnya, karena perasaan insecure yang menyerang selama beberapa hari, aku akhirnya membaca quotes-quotes soal self-love, dan aku jadi sadar kalo aku juga berharga. Kalau aku nggak berharga, ngapain aku diciptakan sama Yang di Atas? Ngapain Yang di Atas ngebuang-buang waktu hanya untuk menciptakan sesuatu yang nggak ada gunanya yakan?
Dalam proses memupuk pelan-pelan perasaan berhargaku, aku belajar dan mendapatkan banyak hal. Aku mulai mampu pelan-pelan berdamai dengan diriku sendiri dan dalam perjalanan untuk mencintai diri sendiri, aku merasa banyak hal yang aku rasa pelan-pelan mulai berdampak, termasuk dalam menjalin hubungan. Dan ternyata benar, tahap yang sering kulupakan ini sebenarnya adalah tahap paling vital dalam aku menjalani hubungan: mencintai diri sendiri. Ingat, mencintai diri sendiri bukan berarti egois. Mencintai diri sendiri adalah kamu menerima dirimu apa adanya eakk..
Dan, hal ini pula yang melatarbelakangi judul postinganku hari ini (berasa kayak bikin latar belakang skripsi hedeh..).
Dalam proses memupuk pelan-pelan perasaan berhargaku, aku belajar dan mendapatkan banyak hal. Aku mulai mampu pelan-pelan berdamai dengan diriku sendiri dan dalam perjalanan untuk mencintai diri sendiri, aku merasa banyak hal yang aku rasa pelan-pelan mulai berdampak, termasuk dalam menjalin hubungan. Dan ternyata benar, tahap yang sering kulupakan ini sebenarnya adalah tahap paling vital dalam aku menjalani hubungan: mencintai diri sendiri. Ingat, mencintai diri sendiri bukan berarti egois. Mencintai diri sendiri adalah kamu menerima dirimu apa adanya eakk..
Dan, hal ini pula yang melatarbelakangi judul postinganku hari ini (berasa kayak bikin latar belakang skripsi hedeh..).
Melihat dari pengalamanku sendiri, setidaknya ketika aku mulai bisa mencintai dirimu sendiri pelan-pelan, maka pikiran negatif dan curiga-curigaan itu lebih sedikit intensitasnya untuk muncul. Pikiran-pikiran yang selalu berusaha menghubung-hubungkan perilakunya yang pada hari itu berbeda dengan kelemahanku sendiri aku rasa mulai berkurang.
Aku juga merasa bahwa seseorang yang pada akhirnya mampu mencintai dirinya sendiri nggak bakal ngoyo untuk membuat pasangannya bahagia terus-menerus agar dapat dinilai sebagai pacar yang baik.
Ingat, tidak ada yang baik jika dilakukan dengan berlebihan, termasuk membuat seseorang bahagia.
Begini gaes. Kita kan manusia yang tidak lepas dari segala ketidaksempurnaan, begitu pula diri kita sendiri. Dengan berusaha untuk terus membuatnya bahagia, justru akan mengorbankan diri kita sendiri, dan bahkan mungkin melewati batas yang sebenarnya sudah kita terapkan untuk diri sendiri. Hal itu jelas salah karena ujung-ujungnya kita sendiri yang kemudian merasa dirugikan. Memang dalam suatu hubungan bukan masalah untung-rugi, tapi kalo kita yang terus dirugikan agar bisa melihatnya bahagia...apa itu hubungan yang baik?
Daan..aku rasa dengan mulai mencintai diriku, aku mulai bisa mandiri secara emosi dan bisa menemukan kebahagiaan yang lain selain dia dan hal ini pula yang membuatku tidak berfokus untuk membahagiakan dia saja. Ya iya dong, kalau aku nggak bisa membuat diriku bahagia, masa aku harus berharap terus sama orang lain untuk membahagiakanku? Kalau aku berharap orang lain membahagiakanku, sampai kapan aku bakal bahagia? Bahagiaku bakal ada limitnya dong karena anggapannya ketika orang itu tidak sama-sama denganku, maka aku tidak akan bahagia dong?
Dengan pertanyaan-pertanyaan itu saja aku tahu aku memang harus membangun perasaan bahagia dan cinta itu di dalam diriku sendiri.
Ingat, tidak ada yang baik jika dilakukan dengan berlebihan, termasuk membuat seseorang bahagia.
Begini gaes. Kita kan manusia yang tidak lepas dari segala ketidaksempurnaan, begitu pula diri kita sendiri. Dengan berusaha untuk terus membuatnya bahagia, justru akan mengorbankan diri kita sendiri, dan bahkan mungkin melewati batas yang sebenarnya sudah kita terapkan untuk diri sendiri. Hal itu jelas salah karena ujung-ujungnya kita sendiri yang kemudian merasa dirugikan. Memang dalam suatu hubungan bukan masalah untung-rugi, tapi kalo kita yang terus dirugikan agar bisa melihatnya bahagia...apa itu hubungan yang baik?
Daan..aku rasa dengan mulai mencintai diriku, aku mulai bisa mandiri secara emosi dan bisa menemukan kebahagiaan yang lain selain dia dan hal ini pula yang membuatku tidak berfokus untuk membahagiakan dia saja. Ya iya dong, kalau aku nggak bisa membuat diriku bahagia, masa aku harus berharap terus sama orang lain untuk membahagiakanku? Kalau aku berharap orang lain membahagiakanku, sampai kapan aku bakal bahagia? Bahagiaku bakal ada limitnya dong karena anggapannya ketika orang itu tidak sama-sama denganku, maka aku tidak akan bahagia dong?
Dengan pertanyaan-pertanyaan itu saja aku tahu aku memang harus membangun perasaan bahagia dan cinta itu di dalam diriku sendiri.
Namun pertanyaannya, apakah mudah untuk melakukannya sebelum menjalin hubungan? Jawabannya adalah tidak teman-temanku. HUAHAHAHAHAHA..
Pertama, mencintai diri sendiri itu tidak mudah gaes. Menerima segala kekurangan diri sekali sama sekali tidak mudah, apalagi kalau kekurangan itu pernah membuat 'luka' yang mendalam. Dan proses pemulihan dari 'luka' pun adalah sesuatu yang yaaahh..makan waktu.
Aku ngerasa sebenarnya aku udah tau tentang hal ini sejak aku putus dua setengah tahun yang lalu. Tapi sampai saat ini pun, aku masih berproses untuk mencintai diriku sendiri dan sering jatuh bangun untuk melakukannya.
Aku ngerasa sebenarnya aku udah tau tentang hal ini sejak aku putus dua setengah tahun yang lalu. Tapi sampai saat ini pun, aku masih berproses untuk mencintai diriku sendiri dan sering jatuh bangun untuk melakukannya.
Kedua, terkadang keinginan memiliki lebih kuat memengaruhi kita untuk mengambil keputusan dibandingkan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Benar? Benar dong.
Dan masih banyak alasan lainnya, cuma berhubung sekarang aku mulai membatasi banyaknya tulisan, nggak kutulis lebih lanjut.
Walau susah, percayalah kamu akan merasa lebih puas dan well-being dalam hubunganmu karena kamu jadi tahu seberapa berharganya kamu. Dengan tahu seberapa berharganya kamu, kamu bisa memilih orang yang berharga untukmu sekaligus juga bisa menghindari atau menyelamatkan diri dari suatu hubungan yang toxic.
Yak, cukup sekian postingan hari ini. Awalnya sih mau bikin postingan yang lucu tapi entah mengapa efek sering dicurhatin malah membuatku pingin ngasih wejangan-wejangan aja (walau dari diriku juga masih nggak bener-bener amat huahahahhaha..).
Mungkin aku bakal sesekali nge-post kalau lagi stress. Iya, akhir-akhir ini aku nemu solusi yang lebih efektif untuk meluapkan stressku daripada sekedar nangis atau marah-marah ke orang lain he he he. Jadi kalo ada saran, bisa langsung dikomen aja xixixi~

Komentar
Posting Komentar