Tick Tack 2


Main cast:
Tiffany (SNSD)
L (Infinite)
Kevin (U-Kiss)
Taemin (SHINee)
Jonghyun (CN. Blue)

Ringkasan cerita sebelumnya:
            Tiffany diwariskan sebuah toko jam antik oleh papanya yang telah tiada. Namun, tiba-tiba, seorang pemuda bernama L memintanya untuk memperbaiki jam saku miliknya. Setelah selesai memperbaiki jam tangan tersebut, tiba-tiba pandangan Tiffany menjadi gelap..

            “Permisi noona,” sapa seorang pemuda yang sudah ada di hadapan Tiffany. Tiffany menatap pemuda itu dengan pandangan samar-samar, namun pandangannya semakin jelas, hingga ia dapat melihat seorang pemuda yang ada di hadapannya sekarang.
            “Ukh, aku di mana?” tanya Tiffany sambil menatap sekelilingnya. Pemuda itu menatap heran pada Tiffany.
            “Noona di Korea,” balas pemuda itu sambil tersenyum. Tiffany memegangi kepalanya yang agak pusing. Banyak pertanyaan bergelayutan di otaknya. Di mana aku? Kenapa aku bisa pingsan? Siapa pemuda ini?
            Tiba-tiba, Tiffany teringat akan sesuatu. Ia mengecek sakunya, dan ternyata jam tersebut masih berada di sakunya, kemudian dia mengeluarkan jam tersebut untuk mengecek apakah jam tersebut baik-baik saja. Saat Tiffany mengeluarkan jam tersebut, tiba-tiba pemuda itu menyambar jam tersebut, kemudian mengamatinya. Tiffany yang masih bingung dengan keadaan yang dialaminya saat itu bertambah bingung saat melihat kelakuan pemuda tersebut, dan mengamati pemuda itu. Rambutnya berwarna coklat terang dengan poni yang hampir menutupi matanya.
            “Maaf,” kata Tiffany pelan. Seakan tersadar akan perbuatannya, pemuda itu menatap Tiffany dan segera mengembalikan jam tersebut kemudian tersenyum ‘meminta maaf’.
            “Maaf noona sudah lancang melakukan ini,” kata pemuda itu sambil menundukkan kepalanya, lalu menyerahkan jam tersebut pada Tiffany. Tiffany yang melihatnya merasa lucu dengan apa yang dilakukan pemuda itu. Dan saat pemuda itu mengangkat kepalanya, Tiffany menyadari bahwa wajah pemuda itu begitu manis.
            “Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Taemin,” kata pemuda tersebut sambil tersenyum.
            “Tiffany,” balas Tiffany singkat. Wah, nama yang unik, pikir Tiffany.
            “Oh, Tiffany noona. Nama yang indah,” kata Taemin. Mendadak, wajah Tiffany memerah. Sebenarnya, factor utamanya bukanlah pujian yang dilontarkan pemuda itu, namun wajah Taemin yang begitu manis saat mengucapkannya.
            “Ngomong-ngomong noona, bolehkah aku bertanya? Darimana noona  bisa mendapatkan jam saku ini?” tanya Taemin.
            “Ini sebenarnya bukan milikku. Ada seseorang yang tadi pagi datang ke tokoku untuk memintaku memperbaiki jam tangannya,” balas Tiffany. Taemin tersentak kaget.
            “Mmm...apakah noona tahu siapa pemilik jam tangan ini?” tanya Taemin dengan tatapan ingin tahu pada Tiffany.
            “Aku hanya mengetahui namanya. Namanya L, atau Myungsoo,” balas Tiffany. Sudah kuduga dia! Pikir Taemin.
            “Ada apa?” tanya Tiffany penasaran.
            “Oh, tidak apa-apa, noona,” balas Taemin sambil tersenyum. Sebenarnya, Tiffany masih penasaran dengan sikap Taemin, namun ia jauh lebih penasaran di mana sekarang ia berada.
            “Ngomong-ngomong, ini dimana? Di mana rumahku?” tanya Tiffany tidak ingin memendam pertanyaannya lebih lama.
            “Noon, mungkin ini sedikit sulit dimengerti oleh noona. Noona masih berada di Korea, tapi sekitar lima tahun yang lalu. Lihat, di jam ini, jarum pendeknya menunjuk pada angka lima, berarti ia membawa noona ke lima tahun silam,” jawab Taemin. Tiffany semakin tidak mengerti akan apa yang terjadi pada dirinya.
            “Jadi, itu artinya akibat jam inilah, aku sampai kesini?” tanya Tiffany, berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi sekarang.
            “Yep, begitulah noona,” balas Taemin tersenyum. Jadi, aku harus tinggal di mana?
“Oh ya, sebaiknya, noona tinggal di tempatku sementara,” timpal Taemin seolah-olah dia mengetahui apa yang dipikirkan oleh Tiffany. Tiffany ingin menolak, namun ia tidak memiliki pilihan lagi.
“Baiklah. Tapi untuk sementara hingga aku sendiri bisa balik ke duniaku sebenarnya,” kata Tiffany.
            “Oke, terserah pada noona saja,” balas Taemin tersenyum. “Ikut saya.” Tiffany kemudian mengikuti Taemin, hingga mereka pun, sampai di sebuah rumah kecil.
            “Ini rumah saya noona. Kecil, tetapi nyaman,” kata Taemin, lalu membuka pintu rumahnya. Tiffany masuk ke dalam rumah kecil tersebut, kemudian tercengang melihat isi rumah tersebut. Rumah yang terasa begitu hangat. Perabotannya rata-rata terbuat dari kayu. Di tengah ruangan terdapat sebuah perapian, dan sebuah sofa yang menghadap ke arah TV yang berukuran sekitar 24 inch. Ruang bagian tengah lampu yang dinyalakan hanya sebuah lampu duduk. Benar-benar terasa nyaman
            “Biar saya menunjukkan kamar noona,” kata Taemin tiba-tiba, yang membuyarkan lamunan Tiffany. Tiffany mengangguk cepat, lalu mengikuti Taemin. Kemudian, Taemin mengeluarkan sebuah kunci berwarna perak dan membuka pintu kamar tersebut. Sebuah kamar dengan luas kira-kira 25 x 25 dengan perabotan sederhana di dalamnya, dan dari dalam kamar tersebut, tercium aromateraphy yang menenangkan.
            “Ini kamar noona,” kata Taemin sambil menyerahkan kuncinya pada Tiffany. “Bila noona membutuhkan saya, saya ada di kamar di samping kamar noona. Malam noona, istirahatlah yang nyenyak.” Setelah berkata demikian, Taemin meninggalkan Tiffany sendirian di kamar tersebut.
            Sesaat kemudian, Tiffany terdiam, lalu duduk di atas tempat tidurnya, lalu mulai merenung. Kenapa aku berada disini. Mengapa cowok tadi begitu baik padaku? Dan, apa hubungan cowok itu dengan jam yang kubawa? Banyak pertanyaan berkecamuk dalam hatinya.
*****
            Sinar matahari menembus tirai putih itu, dan masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu. Tiffany terbangun, dan menyadari bahwa ia masih berada di rumah cowok bernama Taemin itu. Sebenarnya, ia benar-benar berharap semua yang ia alami kemarin hanya mimpi belaka, namun tampaknya, itu tidak terjadi. Tiffany mengucek-ucek matanya, lalu berjalan menuju ke ruang tengah.
            “Selamat pagi noona,” sapa Taemin ramah dari arah dapur. Tiffany melongok ke dapur. Ia mendapati Taemin sedang membuat pancake.
            “Wuah, kamu bisa memasak, ya?” tanya Tiffany lalu menghampiri Taemin.
            “Tentu saja. Aku bahkan pernah memenangkan lomba memasak yang diadakan di daerah ini,” kata Taemin sambil terus mengocok adonan.
            “Ternyata, wajahmu tidak bisa menipu, ya,” kata Tiffany. Taemin memandang Tiffany dengan tatapan bingung.
            “Maksud noona?” tanya Taemin kurang mengerti.
            “Wajahmu terlalu imut, dan terlihat cocok untuk bekerja di dapur,” ucap Tiffany. Tiba-tiba, pipi Taemin memerah.
            “No..noona ini,” kata Taemin tersipu malu. Tiffany tersenyum, lalu duduk di ruang makan. Tiffany menatap ke sekeliling tempat tersebut.
            “Noona ini sarapannya. Pancake dengan maple syrup dan rose teanya. Semoga noona menyukainya,” kata Taemin tersenyum sambil meletakkan sepiring pancake dan secangkir teh.
            “Kelihatannya lezat,” kata Tiffany, kemudian mulai mencicipinya.
            “Ah, enak sekali!” puji Tiffany sambil menatap Taemin dengan pandangan kagum.
            “Benar, noona? Ah, padahal ini percobaan pertamaku membuat pancake,” kata Taemin sambil menunduk malu.
            “Jinjja (benarkah)? Tapi pancake ini enak sekali seperti dibuat oleh seorang ahli!” kata Tiffany tidak percaya.
            “Umm...begitulah noona. Hehehe...maaf karena telah menjadikan noona kelinci percobaanku. Hehehe...” kata Taemin malu. Tiffany tersenyum melihat Taemin yang tampak malu, kemudian mencubit pipinya. Taemin kaget.
            “Kamu lucu sekali, saeng,” kata Tiffany tersenyum. Pipi Taemin semakin memerah melihat senyum manis Tiffany. “Aku lanjut makan, ya.” Taemin hanya mengangguk.
*****
            “Apa?!”
            “Tsunbae (sebutan cowok untuk cowok yang lebih tua), aku juga tidak mengira bahwa noona itu yang membawanya!”
            “Jadi, kemana kira-kira si Myungsoo itu?”
            “Entah tsunbae. Aku juga bingung. Sepertinya, noona itu tidak mengenal Myungsoo secara dekat. Hanya sebatas hubungan ‘penjual dan pembeli’.”
            “Oke. Oh ya, bersikaplah biasa pada noona  itu. Satu lagi, sebaiknya, dia harus tahu mengenai jam tersebut, tapi jangan beritahukan dia untuk saat ini.”
            “Kenapa tsunbae? Dan kenapa aku harus memberitahukannya mengenai jam tersebut?”
            “Karena pada akhirnya, dia akan membantu kita.”
            “Oke tsunbae.” Kemudian, Taemin menutup teleponnya dan pergi menuju kamar Tiffany. Tampak Tiffany sedang membaca salah satu novel klasik yang ia temukan di dalam kamar itu.
            “Noona.” Tiffany sedikit terkejut, lalu menatap ke arah Taemin.
            “Ada apa?” tanya Tiffany.
            “Aku yakin, noona jenuh di dalam kamar. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan di luar. Cuaca hari ini sangat cerah,” kata Taemin sambil tersenyum. Tiffany mengangguk, lalu segera menutup novelnya.
*****

            Tiffany menatap pepohonan yang ada di sekitarnya dengan pandangan cemas. Aku baru berjalan-jalan di sini sekitar dua puluh menit, dan sekarang aku sudah terpisah dengan Taemin! Ah, kayaknya benar apa yang dikatakan Ga In eonnie, aku dari dulu mudah nyasar! Tiffany mendesah panjang.
            Tiba-tiba...
            “Auuuuhh..!!” Tiffany terjatuh setelah menabrak seseorang. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada lututnya yang agak lecet.
            “Ah, maaf!” kata cowok itu cepat, lalu segera menghampiri Tiffany yang masih terduduk di tanah.
            “Tidak apa-apa,” kata Tiffany sambil meringis. Cowok itu kemudian mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, kemudian melilitkannya pada lututu Tiffany.
            “Ini mungkin dapat mencegah infeksi,” kata cowok tersebut. Tiffany menatap cowok yang sedang melilitkan sapu tangannya pada lutut Tiffany. Sepertinya, aku mengenalnya. Tapi, siapa dia?!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

If it belongs to you, it will be yours.

Kamu dan Kenangan di Hari Kemarin

Tentang Dia dari Tiga Tahun yang Lalu