Tick-Tack 1
Main
cast:
Kevin
(U-Kiss)
L
(Infinite)
Tiffany
(SNSD)
Taemin
(SHINee)
Angin musim gugur bertiup dengan
lembut, membuat ranting-ranting tanaman yang tumbuh di dekat jendela toko kecil
itu, seakan mengetuk-ngetuk pelan kaca jendela tersebut. Di balik jendela itu,
tampak seorang gadis yang sedang membersihkan tokonya. Sesekali, ia memandang
jam dinding antik berwarna keemasan di atas pintu toko tersebut.
“Selamat siang,” tiba-tiba, seorang
wanita paruh baya memasuki toko tersebut. Seketika, wajah gadis itu tampak
sumringah.
“Eonnie
(sapaan wanita untuk wanita yang lebih tua)!” sapa gadis itu sambil menghampiri
wanita paruh baya itu.
“Wah, Tiffany! Sudah lama aku tidak
berjumpa denganmu. Bagaimana keadaanmu?” tanya wanita paruh baya itu, lalu
memeluk gadis bernama Tiffany itu.
“Cukup eonnie. Eonnie duduk saja
dulu,” kata Tiffany ramah.
“Tidak, aku hanya sebentar. Aku
hanya ingin melihat adik kecilku yang manis ini,” kata wanita paruh baya
tersebut. “Ngomong-ngomong, kamu masih menjaga toko ini sendirian?”
“Begitulah eonnie. Aku belum menemukan karyawan yang tepat,” balas Tiffany.
“Yah, aku sangat mengerti. Aku
yakin, saeng (sebutan untuk wanita
yang lebih muda) kecilku ini karena begitu sayangnya pada toko ini hingga harus
bersusah payah menemukan karyawan yang benar-benar tepat untuk toko ini,” kata
wanita sambil tersenyum. Tiffany mengangguk pelan.
“Ini adalah peninggalan appa (sebutan ayah). Aku harus
menjaganya baik-baik, dan menemukan karyawan yang bisa merawat semua jam-jam
ini,” kata Tiffany sambil tertunduk. Wanita itu memandang Tiffany, lalu
tersenyum dengan lembut.
“Berjuanglah, Fany! Eonnie akan selalu mendukungmu. Kalau
ada apa-apa, telepon aku saja. Aku buru-buru, jadi tidak bisa berlama-lama
disini,” kata wanita itu sambil tersenyum. Tiffany mengangguk, lalu wanita itu
segera meninggalkan toko tersebut sambil melambai ke arah Tiffany. Setelah
mobil yang dikendarai oleh wanita tersebut tidak nampak lagi, Tiffany segera
menuju ke meja kasir, lalu duduk terdiam.
“Appa.”
tiba-tiba, setetes air mata jatuh ke pipi gadis tersebut.
“Permisi!” Tiffany segera menyeka
air matanya, lalu memandang ke arah pintu toko tersebut. Seorang pemuda tampan
dan terlihat misterius masuk ke dalam toko tersebut, lalu menghampiri Fanny.
“Noona
(panggilan pria untuk wanita yang lebih tua), bisa perbaiki ini?” tanya pemuda
itu, lalu mengeluarkan sebuah jam saku dari saku jaket kulitnya. Namun, Tiffany
tetap memperhatikan sang cowok.
“Noona!
Noona!” kata pemuda itu sambil melambai tangannya ke depan wajah Tiffany.
Tiffany tersentak kaget.
“Y-ya?” tanyanya gugup.
“Noona
ini kenapa?” tanya pemuda itu sambil
tersenyum ke arahnya. Tiffany terperangah melihat senyum manis dari pemuda itu.
“N-nggak apa-apa,” balas Tiffany
setelah kembali sadar.
“Oh, syukurlah. Noona bisa perbaiki jam ini?” kata pemuda itu sambil menyodorkan
jam sakunya pada Tiffany. Tiffany menatap jam tersebut. Tampak tulisan “L” pada
bagian depan penutup jam tersebut.
“Nama anda L?” tanya Tiffany
penasaran.
“Yah, begitulah. Sebenarnya itu nama
panggilan saja. Nama saya sebenarnya adalah Myungsoo. Tapi terserah noona ingin memanggil saya apa,” balas
pemuda bernama L itu, lagi-lagi sambil tersenyum hingga membuat Tiffany terpesona
dengannya. Namun sepertinya, Tiffany mulai dapat mengontrol dirinya.
“Apa yang rusak dari jam ini?” tanya
Tiffany sambil memandangi jam tersebut. Ukirannya yang halus dan detail membuat
Tiffany kagum dengan jam tersebut.
“Hmm...saya pikir jam ini hanya habis
baterai saja, sehingga saya mengganti baterainya dengan baterai baru. Namun,
saat saya menggantinya, ia tetap mati,” kata L panjang lebar.
“Oh, oke. Saya mengerti,” kata
Tiffany sambil tersenyum.
“Kapan saya bisa mengambil jam itu?”
“Paling lama tiga hari. Saya akan
mengabarimu kapan kamu bisa mengambilnya,” balas Tiffany.
“Oke. Kalau begitu, ini kartu nama
saya.” L kemudian mengeluarkan dompetnya dan menyodorkan sebuah kartu nama pada
Tiffany.
“Baiklah, kalau begitu, saya harus
pulang dulu. Gamsahamnida noona,” kata pemuda itu, lalu pergi.
Tiffany memandang L tanpa berkedip. Benar-benar tampan, pikirnya.
*****
Hari sudah mulai gelap, dan Tiffany
masih berkutat dengan peralatannya dan jam saku tersebut.
“Jam ini seperti berbeda dengan jam
lainnya,” desah Tiffany. Ia hampir menyerah, saat ia menatap jam tersebut, lalu
melihat jarum detik pada jam tersebut mulai berdetak. Tiffany menatapnya dengan
pandangan sangat gembira.
“Akhirnya!” timpalnya senang.
Kemudian, ia segera membereskan peralatanya. Namun tiba-tiba, ada sesuatu yang
aneh pada jam tersebut. Makin lama, jarum detik itu bergerak semakin cepat, dan
membuat pandangan Tiffany gelap seketika.
Apa
yang terjadi??!
Komentar
Posting Komentar