To Be A True Friend
Halo..hahaha...tumben banget hari ini aku ngepost 2 cerita. Sebenarnya post yang ini bisa dibilang nggak direncanain. Cuma nggak tahu sih malam-malam pingin nge-share sesuatu. Daripada baper nggak jelas, mending membagikan tulisan yang bisa memotivasi orang lain, kan? Hahaha...#cieeekekeudahbesar
Oke, lanjut deh. Post yang sekarang tuh aslinya aku bingung mau bahas apa. Tapi pas tadi lagi iseng-iseng baca post-postku yang sudah lama, aku jadi teringat sesuatu. Ada satu hal yang mungkin kusesalkan hingga sekarang.
Aku masih belum bisa menjadi sosok sahabat yang baik.
Yah, jadi dulu pas SMA, aku berteman deket sama seseorang. Kalau aku nilai dia sih, dia sebenarnya baik dan dewasa. Banyak hal baik yang ada dalam dirinya. Dia punya banyak bakat, dan dia juga orang yan menyenangkan. Kami beberapa kali pernah jalan bareng gitu. Dan yang perlu saya pertegas, dia ini cewek. Jadi postingan malam ini bukan buat baper, bukan soal flashback dan bukan pula soal orang yang lagi falling in love. Hahaha...ada banyak hal yang menarik diperbincangkan kok selain yang menyangkut soal cinta. Huahahaha....lanjut ke topik. Sayangnya, karena ada suatu kesalahpahaman, dia ini pun akhirnya dijauhi oleh teman-teman kelasnya waktu kelas 10. Jadi bisa dikatakan, kalau kalian membaca postinganku sebelum-sebelumnya, nasibku sama dia ini 10:12, tapi aku masih lebih beruntung. Aku masih punya teman-teman yang dekat banget, tetapi dia tidak. Well, sebenarnya aku dulu nggak suka sama dia. Masalahnya sederhana, dan itu lagi males untuk kupikirkan. Hahaha..terlalu childish sih kalau kupikir-pikir lagi. Tapi intinya, kami dekat. Dan nasibku pun lebih baik dari dia. Setelah aku mengalami masa-masa tidak menyenangkan di kelas 10, aku mulai membuka diri dan bergaul dengan lebih banyak orang. Dan karena ada beberapa kegiatan yang kuikuti, teman-temanku pun bertambah. Jadi relasiku dengan orang lain membaik. Dan aku juga merasa orang yang dulu membuat aku membenci masa-masa kelas 10ku pun sudah mendapat karmanya, dan gosip mengenai aku yang dianggap freak pun lama-lama hilang. Tapi temanku (yang kita samarkan saja namanya menjadi N) ini tidak begitu. Gosip dia memang nggak separah dulu, tetapi masih ada beberapa orang yang menganggap dia freak.
Dan aku tuh ternyata dulu jahat. Karena aku nggak mau dapat cap freak lagi, aku mulai menjaga jarak dari dia. Yah, ini realitanya. Memang kejam sih, dan kalau kupikir-pikir, aku tuh selalu pingin ngebela orang yang terkucilkan gitu, tapi percayalah, kenyataan berbeda dengan ekspetasi. Dan setiap ia diterpa gosip seperti itu, aku nggak bisa berbuat apa-apa walau aku tahu gosip tersebut tidaklah benar. Itulah hal yang kusesali hingga sekarang. Aku pernah merasa nggak enaknya dikucilkan, tapi aku malah menjadi salah satu orang yang mengucilkan. Aku pun nggak tahu apakah dia sekarang membenciku atau tidak.
Yah, sekarang kami pun sudah berbeda kampus. Dia di Semarang, dan aku di Surabaya. Dan lucunya, kami berdua yang pernah ter-bully ini ternyata ujung-ujungnya masuk fakultas psikologi. Hahaha...mungkin apa yang kami alami sewaktu SMA inilah yang melatarbelakangi kami masuk fakultas psikologi kali, ya. Hahaha...
Tapi dari pengalaman itu, aku bisa ngambil beberapa makna. Untuk menjadi seorang sahabat yang baik itu susah. Jadi, jangan sia-siakan sahabatmu yang ada sekarang. Kamu pun tak perlu jadi superhero yang selalu ngebela sahabatmu ketika mereka dikucilkan. Dengan kamu tetap menaruh perhatian, terutama pada hal-hal kecil yang ada pada mereka dan menganggap bahwa mereka itu ADA, kamu sudah bisa menunjukkan eksistensimu sebagai sahabat. Dan sekalipun dia terkucilkan, jangan sekali-kali ikut mengucilkan dia. "Sahabat" tuh merupaka reward yang berharga banget. Dan reward itu bukan sesuatu yang mudah untuk disia-siakan, kan? Selain itu, kamu nggak perlu marah-marah pada teman-teman yang sedang ngebicarain sahabatmu itu. Dengan kamu nggak ikut-ikutan 'nusuk' dia dari belakang pun, kamu sudah melakukan hal yang benar.
Aku jadi teringat dengan sahabatku waktu kecil. Dia dari SD orangnya bisa dikatakan frontal. Setiap ada teman yang bicarain aku, memang dia nggak ngelabrak temanku itu. Dia selalu cerita ke aku kalau ada yang membicarakanku, dan membantuku mengintrospeksi diriku. Memang sih, rasanya tuh nyesek banget pas tau ada yang nggak suka sama kita. Tapi setidaknya kan, kita dikasih tahu, daripada nggak nyadar-nyadar, dan kita terus jadi bahan omongan, kan?
Ketika ingat mengenai temanku sewaktu SMA itu, dan selagi aku nulis ini, hatiku pun tergelitik untuk kembali memulai berkomunikasi dengan dia. Memang sih, aku yakin banget dia sudah tidur. Tapi setidaknya dia bakal balas besoknya. Dan aku memang nggak bakal bisa mengubah masa SMAnya yang kelam itu. Tapi setidaknya dengan pengalamanku dan dia, aku pingin bikin dia yakin lagi walau kita beda kota, setidaknya aku bisa melakukan hal yang bakal ngebantuin dia kedepannya. Hahaha...

Komentar
Posting Komentar