Tick Tack 3


Main Cast:
Tiffany (SNSD)
L/Myungsoo (Infinite)
Taemin (SHINee)
Kevin (UKISS)
Jonghyun (CNBLUE)

Ringkasan Cerita Sebelumnya:
Tiffany tiba-tiba tersesat saat berjalan-jalan bersama Taemin. Di saat kebingungan, tiba-tiba, ada seseorang yang menabrak dirinya. Namun, Tiffany seperti pernah mengenal orang yang menabraknya sebelumnya.

Ga-Gamsahamnida (terima kasih),” kata Tiffany gugup melihat cowok itu sedang membalut lukanya.
Cheonma (sama-sama),” balas cowok itu sambil tersenyum. “Nah, sudah selesai.” Cowok itu berdiri, lalu membantu Tiffany berdiri.
“Oh ya, aku Jonghyun,” kata cowok itu sambil tersenyum.
“Tiffany,” balas Tiffany. Tiba-tiba, raut wajah cowok tersebut berubah.
“Tiffany?” tanya cowok itu mengulang perkataan Tiffany. Tiffany mengangguk.
“Ada apa?” tanya Tiffany, takut ada sesuatu yang salah dengannya dan dengan cowok tersebut.
“Ah,tidak. Ngomong-ngomong, rumahmu di mana?” tanya Jonghyun.
            “Engg...”
            “Kamu tersesat?” tebak Jonghyun.
            “Bingo!” kata Tiffany spontan, lalu tiba-tiba menutup mulutnya. Melihat ekspresi Tiffany, Jonghyun menjadi tertawa. Tiffany menatap Jonghyun yang sedang tertawa. Wajahnya mengingatkanku pada seseorang. Siapa ya?
            “Kalau begitu, aku akan mengantarmu,” kata Jonghyun sambil berdiri. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Tiffany berdiri. Tiffany menggenggam tangan Jonghyun.
            “Tanganmu hangat,” celetuk Tiffany.
            “Oh ya?” Jonghyun agak terkejut mendengar celetukkan Tiffany tadi. Tiffany mengangguk. Saat itulah, Jonghyun seakan tersadar sesuatu, namun ia segera menepis pikirannya tersebut.
            “Hahaha...ya sudah, ayo kita pergi,” katanya cepat. Tiffany kembali mengangguk. Ia pun mengikuti Jonghyun dari belakang. Tiffany memandang Jonghyun dari belakang. Ia tampak memikirkan sesuatu, namun ia sendiri ragu akan perasaannya.
            “Hmm...rasanya kalau kita berjalan lurus sekitar sepuluh-lima belas menit, kita bisa bertemu perkampungan kecil,” ujar Jonghyun.
            “Tapi tempat aku tinggal terletak di daerah yang cukup terpencil. Seingatku, ada beberapa pohon elm di belakang rumah,” balas Tiffany. Jonghyun kembali berpikir.
            “Pohon elm? Aku sepertinya tahu tempatnya, tapi aku lupa letaknya di mana,” kata Jonghyun mencoba mengingat-ingat lokasi yang dikatakan Tiffany. Tiba-tiba, ada sesuatu yang menarik hati Tiffany. Ia memegang tangan Jonghyun. Jonghyun terkejut, namun ia pura-pura tidak mempedulikan apa yang dilakukan gadis yang kini di sampingnya itu. Tiffany melipat lengan sweater yang dikenakan cowok itu, kemudian melihat ke punggung tangan Jonghyun. Saat melihat hal itu, Tiffany terdiam.
            “Ada apa?” tanya Jonghyun yang heran melihat reaksi gadis itu.
            “K-kau...Lee Jonghyun?” balasnya sambil menatap mata cowok itu dalam-dalam. Jonghyun mengangguk, namun masih bingung.
            “Memangnya kenapa?” tanya Jonghyun bingung.
            “Ini aku, Mi Young. Hwang Mi Young!” katanya dengan nada berbinar, masih menggenggam tangan Jonghyun. Jonghyun menatap Tiffany, masih berusaha mencerna apa yang dikatakan gadis itu barusan. Tiba-tiba, matanya berbinar.
            “Oh, Mi Young!” katanya, dan dengan spontan memeluk tubuh Tiffany yang kecil itu. “sudah lama sekali aku tidak melihatmu!” kemudian, Jonghyun segera melepaskan pelukannya.
            “Kau masih seperti anak kecil,” kata Tiffany dengan nada meledek. Jonghyun hanya tersenyum gugup.
            “Maaf yah, tadi aku spontan melakukannya. Aku terlalu gembira melihat si kecil Young sudah besar,” balasnya. Mendengar tanggapan Jonghyun, Tiffany memukul pelan lengan Jonghyun. Jonghyun kembali tertawa.
            “Kenapa kau tiba-tiba pindah?” tanya Jonghyun.
            “Orang tuaku ingin mencoba membuka usaha di kota besar seperti Seoul,” jawab Tiffany.
            “Tapi kenapa kau pergi secara diam-diam tanpa pamitan denganku?” tanya Jonghyun dengan nada setengah mengambek.
            “Aku tidak ingin membuat si cengeng Jonghyun menangis seharian karena aku,” balas Tiffany sambil tertawa.
            “Aku tidak akan menangis seharian kok, walaupun kamu pergi lagi,” kata Jonghyun. Tiffany hanya mencibir, kemudian berjalan mendahului Jonghyun. Tiba-tiba, Jonghyun menarik lengannya.
            “Ada apa?” tanya Tiffany.
            “Bagaimana kau bisa di sini?” tanya Jonghyun sambil menatap Tiffany dalam. “Kenapa kau muncul tiba-tiba di sini?” Tiffany terdiam. Mungkin saat ia menceritakan hal yang dialaminya pada Jonghyun, Jonghyun hanya tertawa terbahak-bahak, seperti yang dilakukannya dua belas tahun yang lalu saat ia menceritakan tentang unicorn pada Jonghyun.
            “Mungkin takdir yang membawaku ke sini agar kau tidak bunuh diri karena aku menghilang secara tiba-tiba,” canda Tiffany.
            “Jinjja (benar)? Aigo kau benar-benar menganggapku seperti anak kecil!” kata Jonghyun sambil berkacak pinggang.
            “Kalau tidak benar begitu, aku akan pergi,” kata Tiffany dengan nada meledek.
            “Tunggu, kita baru juga ketemu,” kata Jonghyun. “Bagaimana kalau kita kembali mencari tempat tinggalmu yang sekarang?” Tiffany menepuk dahinya. Astaga! Kebahagiaannya bertemu dengan Jonghyun membuatnya lupa akan tujuan awalnya.
            Dua jam mereka berjalan-jalan di hutan. Mengusir bosan, Tiffany bersenandung kecil. Mendengar senandung Tiffany, Jonghyun pun ikut bersenandung sehingga mereka akhirnya bersenandung bersama-sama. Melewati pepohonan oak dan maple, dan menginjak dedaunan kering yang berguguran. Angin musim gugur menerpa wajah Tiffany yang membuat ia bersin sesekali. Jonghyun pun melepaskan scarf, dan melilitkannya pada leher Tiffany.
            “Kau pasti kedinginan,” ujar Jonghyun sambil tersenyum manis. Sesaat, Tiffany hanya terdiam melihat senyum Jonghyun. Tidak bisa mengalihkan matanya dari mata dan senyum Jonghyun. Lee Jonghyun tidak berubah. Ia tetap manis, walau kini ia tampak lebih manis dari terakhir kali pertemuan mereka.
            “Ayo kita lanjut jalannya,” kata Jonghyun membuyarkan lamunan Tiffany. Tiffany hanya mengangguk. Kehangatan scarf milik Jonghyun tampaknya selain menghangatkan lehernya, juga menghangatkan hatinya. Ia bisa mencium aroma tubuh Jonghyun dari scarfnya itu. Tiffany memandang Jonghyun dari belakang. Tampak cowok itu masih bersemangat seperti dulu.
*****
            “Kau kehilangan dia?” Terdengar suara setengah berteriak dari seberang telepon. Taemin hanya mendesah.
            “Aku juga tidak menyangka bahwa aku akan kehilangan noona,” ujarnya.
            “Lalu, apa jam itu masih ada padanya?” tanya pria yang ada di seberang telepon tersebut.
            “Entahlah tsunbae. Mungkin dia meninggalkan di kamarnya. Aku akan mengeceknya.”
            “Baiklah, segera laporkan padaku. Apabila kali ini kau kehilangan jam itu lagi, aku akan memastikan bahwa saat ini kau benar-benar terancam!” Taemin hanya terdiam.

            “N-ne,” ujarnya singkat, lalu menutup telepon. Ia kembali mendesah. Di mana sebenarnya noona?!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

If it belongs to you, it will be yours.

Kamu dan Kenangan di Hari Kemarin

Tentang Dia dari Tiga Tahun yang Lalu