Pretty Saca

“Anak-anak, kalian mendapat teman baru, pindahan dari luar kota. Terima dan bergaulah dengan dia,” kata Bu Ida, waktu itu di depan kelasku.
Marsel yang duduk di sebelahku menyenggol lenganku sambil berbisik, “He-eh, tuh anak baru.’
“ Memang kenapa? “ tanyaku cuek sambil terus baca komik yang ada di antara laci dan pahaku.
“ Siapa tahu kamu naksir sama dia! “ kata Marsel sambil cengengesan.
“ Gila benar otakmu! Nggak mungkinlah aku suka dia! Kenal aja nggak! “ timpalku, tak mau melepaskan perhatian dari komik.
“ Saca, kamu duduk di bangku itu ya! “ kata Bu Ida.
Dan Saca dengan senyumnya yang biasa saja menuju ke bangku di belakang bangkuku dan Marsel.
“ Wah, Ri, kebetulan banget, dia duduk di belakangnya kita! “ bisik Marsel.
“ Ya, terus? “ tanyaku santai sambil terus membaca komik.
“ Ya elah, kamu Ri! Keterlaluan banget sih!! Masa aku lagi bicara dicuekin!! Rese ah!! “ kata Marsel dengan nada sedikit marah.
“ Kamunya yang bahan pembicaraannya nggak asik!! “ kataku membela diri.
****
Sudah satu minggu Saca di kelasku, duduk di belakangku dengan Rita. Dan orangnya memang, pendiam banget, kayak kuburan.
Tapi hari itu di jam isitirahat, tiba-tiba dia berdiri di samping mejaku.
Jam istrirahat berbunyi dan aku segera berniat untuk membaca komik. Tapi, komik yang kubawa tadi tidak ada di dalam tasku.
“ Anu, “ tiba-tiba, Saca sudah ada di depanku.
“ Kenapa? “ tanyaku cuek. Tanganku masih terus mengaduk-aduk tas untuk menemukan komikku itu.
“ Nama kamu siapa? “ tanya Saca agak gugup dan ragu. Aku menatap Saca sesaat. Lalu, aku kembali fokus dengan komikku.
“ Rio, “ kataku singkat.
“ Oh. Salam kenal ya! “ ucapnya ramah.
“ Iya. Aku senang berkenalan denganmu,” dan demikianlah pertemananku dengan Saca..................
*****
Aku merebahkan diriku di atas tempat tidurku. Tiba-tiba, kulihat satu pesan masuk yang ada di hpku. Sesaat, aku bingung.
“ Hai Rio! Ini aku Saca. Makasih kamu sudah mau jadi teman yang baik untukku. Kamu sudah makan belum?“ Aku hanya tersenyum dan segera membalas smsnya.
“ Belum sih. Aku belum lapar. “ Tak lama kemudian, ada sms yang masuk.
“Makan dong! Nanti kamu sakit! Eh, ada yang ingin aku bicarakan! “ Tiba-tiba, dahiku berkerut saat melihat smsnya.
“ Memang, kamu mau bicara apa? “ tanyaku dalam sms itu.
“ Aku suka kamu. “ Aku agak kaget. Tiba-tiba, kulihat sebuah foto jatuh dari tasku. Kupungut foto itu. Fotoku bersama Cesna. Tiba-tiba, aku mengingat semua tentang kejadian pacaranku dengan Cesna. Aku menjadi ingat akan sms dari Saca tadi. Hatiku mulai menjadi takut untuk pacaran dengan kejadian yang tadi kuingat. Akhirnya, aku mengambil sebuah keputusan. Keputusan yang nggak akan bisa diterima Saca dengan sepenuhnya................
“ Maaf, Ca! Mungkin, kamu harus menjauh dariku. Aku berpikir, aku nggak akan bahagia denganmu. “ Aku segera mengirim sms itu. Dan setelah sms itu terkirim, tak ada lagi sms dari Saca.
*****
“ Eh Marsel, sini! “ panggilku pada Marsel yang sedang main bola.
“ Kenapa? “ tanya Marsel sambil melap keringatnya.
“ Saca mana sih?! Kok aku nggak lihat dia sih, dari tadi?! “ tanyaku padanya.
“ Kamu nggak tahu ya?! Saca sekarang di Jepang! Dia sakit gagal ginjal, sehingga dia harus dibawa ke Jepang! Eh, aku punya sesuatu buatmu deh! Dari Saca. Dia bilang, untuk kamu. Kamu marah, ya, sama dia karena dia nembak kamu? “ tanya Marsel sambil memberiku sebuah gantungan kunci semangka.
“ Ng...nggak!! Eh, makasih! “ kataku berbohong.
“ Dia nitip pesan, bilang maafin dia kalau dia nembak kamu. Dia bilang, nggak apa-apa kalau kamu nolak karena belum siap. Dia juga bilang, dia akan jauhin kamu kalau itu maumu. Eh, tapi sebenarnya, salah Saca ke kamu itu apa, sih?! Saca kan, baik gitu! Aku aja lihat inner beauty nya. Dia kan, suka banget nolong kamu! Apalagi waktu matematika. Dia kan, rela gitu ngajarin kamu hingga kamu benar-benar mengerti. Kamu harusnya bersyukur karena ternyata dia suka sama kamu! Aku aja, agak iri sama kamu! Nggak kayak Cesna, mantan kamu yang matre dan suka manfaatin kamu itu! Hobinya tinggal minta ditraktirin melulu! Kalau Saca kan, dia nggak pernah minta apa-apa dari kamu, dan dia orangnya sederhana, nggak kayak Cesna yang hobinya pamer! “ timpal Marsel. Tiba-tiba, aku terdiam.Semua yang dikatakan Marsel memang benar. Saat aku minta dijelaskan pelajaran, dia dengan senang hati. Dan aku nggak pernah digituin sama Cesna. Dan mungkin, aku menyadari perasaanku padanya. Perasaan yang terselubung, dan perasaan yang kututupi.
“ Ca, sori kelakuanku yang lalu! Aku benar-benar minta maaf. Sejujurnya, aku suka juga sama kamu. Soalnya, aku trauma pacaran. Tapi, Marsel sudah menyadarkanku kalau aku memang tidak salah memilih. Mau nggak, kamu jadi pacarku? “ Aku segera mengirim sms itu. Tak lama kemudian, ada satu pesan baru.
“ Nggak papa. Aku mau kok!Kamu nggak usah khawatir! Aku pasti kuat menjalani operasinya. Eh, doain ya semoga operasiku berjalan lancar! Kalau operasinya lancar, dua bulan lagi, aku pasti bakal balik ke Indonesia. “ Aku tersenyum saat melihat sms dari Saca. Mungkin, satu hal yang harus aku pelajari. Aku nggak boleh menutup hatiku pada siapapun hanya karena trauma, dan sebelum aku mengenal orang itu. Dan terlebih pentingnya, apa yang dikatakan Marsel benar. Kelebihan yang dimiliki Saca adalah kebaikan hatinya dan inner beauty, dan ia nggak se-matrealistis kayak Cesna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

If it belongs to you, it will be yours.

Kamu dan Kenangan di Hari Kemarin

Tentang Dia dari Tiga Tahun yang Lalu