The Cats
Aku duduk mematung. Air mataku masih saja mengalir, walau aku sudah berusaha untuk menahannya. Menahan semua air mata ini.
“ Ta, sudahlah. Kitty sudah pergi. Mungkin ini takdir Tuhan. Lagian, Kitty kan, sudah nggak merasa sakit lagi, “ ujar Kak Tere padaku. Hatiku semakin tersayat-sayat.
“ Kenapa, kenapa Tuhan nggak pernah ngijinin kita untuk memelihara anak kucing lebih dari sebulan?! Seminggu saja tidak sampai! Ini sudah kedua kalinya aku kehilangan anak kucing. Hari yang sama dan nama yang sama! Kitty, meninggal di hari Minggu! Entah itu Kitty pertama atau kedua! Dan entah mengapa, kedua Kitty ku meninggal dengan pelaku yang sama! Kucing yang sama! Kucing yang menggigitnya dan tidak mengijinkan Kitty hidup lebih lama! “ Aku histeris. Aku tidak bisa membendung kesedihan yang mulai merajalela di lubuk hatiku. Pasalnya, ini adalah anak kucing yang diberikan tetanggaku dengan tujuan untuk mengganti anak kucingku yang mati di tangan kucing milik tetanggaku. Tapi entah mengapa, kucing itu tidak kapok juga untuk menggigit anak kucingku lagi. Mungkin, aku akan menyimpan dendam kepadanya. Tapi, untuk apa menyimpan dendam pada seekor kucing nggak sama sekali mengerti perasaanku terhadapnya....................
*****
“ MEOOOONG...MEOOONG... “ Aku menoleh. Mungkin ini halusinasiku karena terus memikirkan Kittyku.
“ MEOOONG....MEOOONG..... “
“ Kak, ada anak kucing lho! “ kata Mia kepadaku. Dia menunujuk seekor anak kucing di samping jendela rumahku. Aku menatapnya lekat-lekat. Kitty memang sudah pergi. Lebih dari enam bulan, dan aku samasekali belum bisa melupakannya. Dan entah mengapa, anak kucing yang muncul secara gaib ini mirip sekali dengan Kitty. Kittyku yang amat kusayang. Apa ini reikarnasi dari Kitty?!
“ Kak, pungut dia yuk! Kasihan, dia kehujanan! “ rajuk Mia. Jujur. Sebenarnya, aku nggak ingin lagi memelihara kucing. Soalnya, aku takut dia harus mati di tangan kucing yang selama ini ngebunuh semua anak-anak kucingku dan harus mati di hari Minggu. Aku cukup trauma. Trauma memelihara anak kucing ini, karena setiap aku melihat anak kucing, aku teringat dengan Kittyku. Kitty yang sudah meninggalkanku cukup lama.
“ MEOOOONG...MEOOOOONG... “ Lagi-lagi dia mengeong. Mungkin, dia berharap agar aku dan Mia ingin memungutnya.
“ Kak, pelihara yuk! Nanti dia kehujanan, lalu mati karena kedinginan! Ayo dong, Kak! Anak kucingnya sudah mulai menggigil nih! “ Mia kembali merajuk. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
“ Ya sudah, “ kataku pasrah. Dalam hati, aku berharap, nasibnya tidak setragis Kittyku yang pertama dan yang kedua.
“ Kasih nama siapa ya? “ tanya Mia saat kami sudah menaruhnya di dalam sebuah karton bekas. Cukup besar untuk dirinya.
“ Bagaimana dengan Kawaii? Dalam bahasa Jepang, Kawaii artinya lucu. Dia kan lucu! Selucu Kitty pertamaku! “ usulku bersemangat.
“ Nama yang bagus! Kawaii, sini! “ Mia mulai bermain-main dengannya. Aku sendiri mengambil bola bekel milik Mia dan mulai memberikannya pada Kawaii. Aku juga mulai bisa menggendong-gendong Kawaii yang awalnya, aku sendiri takut menggendongnya. Entah mengapa, sejak aku memelihara Kawaii di rumahku, hatiku mulai pulih. Rasa traumaku dalam memelihara kucing hilang perlahan. Kawaii memberiku pelangi di hidupku. Dan satu hal lagi. Sekarang, aku mulai menyayanginya. Menyayanginya seperti aku menyayangi Kitty-Kitty ku. Tapi, mungkin, aku akan memberikan kasih sayang ekstra yang selama ini tidak kuberikan pada Kitty-Kitty ku. Kawaii benar-benar mengubah pandanganku terhadapnya.
*****
“ Mia, Meta, mulai sekarang, kalian harus memberi pengawasan penuh pada Kawaii! “ kata Mama di suatu pagi.
“ Lho, kenapa? Kawaii kan, nggak kabur, kan? “ tanyaku agak heran.
“ Iya! Tapi, tadi ada anjing yang masuk. Anjing itu berniat menggigit Kawaii! Untung saja, Mama melihatnya dan langsung mengusir anjing tersebut! “ kata Mama lagi. Deg! Ada anjing masuk? Dari mana asalnya?
“ Sudahlah! Kalau begitu, kalian sarapan sana! “ kata Mama lagi. Aku segera berlari ke luar, berusaha menemukan Kawaii. Kulihat Kawaii sedang tidur di samping kartonnya. Aku menggendongnya perlahan. Kuraba badannya. Yang paling kutakutkan adalah, jangan sampai anjing itu melukai Kawaii. Tapi, tidak ada luka apa-apa di badannya. Dan aku kembali teringat. Kitty ku mati karena pengawasanku yang lengah hingga ada kucing yang menggigit lehernya hingga nyaris putus. Tapi, anjing ini mungkin agak berbeda. Kemarin, kulihat Kawaii juga nyaris digigit. Tapi kelihatannya, anjing itu nggak berniat menggigit Kawaii, dan hanya ingin bermain-main saja. Tapi, ini adalah pelajaran penting. Aku nggak boleh lengah dalam mengawasi Kawaii lagi.
*****
“ Kak Meta! Sini deh! Ada yang ingin aku tunjukkan! “ Mia menarik tanganku dan mengajakku keluar untuk melihat Kawaii. Aku setengah berlari menuju halaman depan rumahku. Kulihat Kawaii yang duduk di samping kartonnya, tapi ada yang sedikit berbeda...................
“ Kak, tadi aku menemukan anak kucing hitam lagi loh di jalan! Siapa tahu, dia bisa menjadi temannya Kawaii! Kan, lucu gitu ada dua ekor anak kucing yang duduk manis di depan pintu! “ kata Mia berseri-seri. Benar juga. Saat Kawaii dan anak kucing hitam itu bertemu, mereka akrab sekali.
“ Kita kasih nama dia Blackforrest! Gimana?! “ usulku lagi.
“ Boleh! “ kata Mia bersemangat. Aku semakin bersemangat saat melihat Kawaii dan Blackforrest seperti kakak beradik yang sangat akrab. Dan yang paling lucu, mereka selalu mengikutiku saat aku kemana pun, dan selalu duduk bersama di atas sandalku dan mamaku yang aku tinggalkan di luar.
*****
Hari Minggu. Hari yang sebenarnya aku nggak pingin ada. Hari yang nggak tepat buat Kawaii dan Blackforrest. Aku takut, ini adalah hari duka untukku saat tahu Kawaii dan Blackforrest tidak ada lagi di dunia.
“ Semoga Kawaii dan Blackforrest tidak mati hari ini, ya? “ mohonku. Aku hanya bisa berharap kalau Tuhan mau mengasihani Kawaii dan Blackforrest dan mengijinkan mereka tinggal di sini. Pasalnya, Kawaii baru kurawat lima hari, sedangkan Blackforrest baru tiga hari. Jantungku berdegup semakin kencang. Aku tidak ingin ada dua kuburan lagi di halaman depan rumahku.
Malamnya, tiba-tiba Mia menghampiriku setengah berlari.
“ Kenapa, Mi? “ tanyaku. Aku nggak berharap Mia datang dengan membawa berita buruk.
“ Mia senang! Kawaii dan Blackforrest belum mati! Mereka hebat! “ Mia seperti benar-benar bahagia. Ia menarikku keluar untuk melihat Kawaii dan Blackforrest. Benar saja! Kawaii dan Blackforrest masih duduk di atas sendalku. Aku bahagia. Bahagia sekali. Mungkin kali ini Tuhan ingin agar aku bisa mengurus Kawaii dan Blackforrest lebih baik lagi. Aku segera menggendong Kawaii dengan hati gembira. Aku berharap, mereka bisa terus bersamaku di sini. Mereka juga mengubah hari Minggu menjadi bukan hari duka lagi. Seandainya aku tidak memungut mereka, aku akan terus takut memelihara anak kucing lagi. Tuhan, semoga mereka bisa terus bersamaku selamanya.................
“ Ta, sudahlah. Kitty sudah pergi. Mungkin ini takdir Tuhan. Lagian, Kitty kan, sudah nggak merasa sakit lagi, “ ujar Kak Tere padaku. Hatiku semakin tersayat-sayat.
“ Kenapa, kenapa Tuhan nggak pernah ngijinin kita untuk memelihara anak kucing lebih dari sebulan?! Seminggu saja tidak sampai! Ini sudah kedua kalinya aku kehilangan anak kucing. Hari yang sama dan nama yang sama! Kitty, meninggal di hari Minggu! Entah itu Kitty pertama atau kedua! Dan entah mengapa, kedua Kitty ku meninggal dengan pelaku yang sama! Kucing yang sama! Kucing yang menggigitnya dan tidak mengijinkan Kitty hidup lebih lama! “ Aku histeris. Aku tidak bisa membendung kesedihan yang mulai merajalela di lubuk hatiku. Pasalnya, ini adalah anak kucing yang diberikan tetanggaku dengan tujuan untuk mengganti anak kucingku yang mati di tangan kucing milik tetanggaku. Tapi entah mengapa, kucing itu tidak kapok juga untuk menggigit anak kucingku lagi. Mungkin, aku akan menyimpan dendam kepadanya. Tapi, untuk apa menyimpan dendam pada seekor kucing nggak sama sekali mengerti perasaanku terhadapnya....................
*****
“ MEOOOONG...MEOOONG... “ Aku menoleh. Mungkin ini halusinasiku karena terus memikirkan Kittyku.
“ MEOOONG....MEOOONG..... “
“ Kak, ada anak kucing lho! “ kata Mia kepadaku. Dia menunujuk seekor anak kucing di samping jendela rumahku. Aku menatapnya lekat-lekat. Kitty memang sudah pergi. Lebih dari enam bulan, dan aku samasekali belum bisa melupakannya. Dan entah mengapa, anak kucing yang muncul secara gaib ini mirip sekali dengan Kitty. Kittyku yang amat kusayang. Apa ini reikarnasi dari Kitty?!
“ Kak, pungut dia yuk! Kasihan, dia kehujanan! “ rajuk Mia. Jujur. Sebenarnya, aku nggak ingin lagi memelihara kucing. Soalnya, aku takut dia harus mati di tangan kucing yang selama ini ngebunuh semua anak-anak kucingku dan harus mati di hari Minggu. Aku cukup trauma. Trauma memelihara anak kucing ini, karena setiap aku melihat anak kucing, aku teringat dengan Kittyku. Kitty yang sudah meninggalkanku cukup lama.
“ MEOOOONG...MEOOOOONG... “ Lagi-lagi dia mengeong. Mungkin, dia berharap agar aku dan Mia ingin memungutnya.
“ Kak, pelihara yuk! Nanti dia kehujanan, lalu mati karena kedinginan! Ayo dong, Kak! Anak kucingnya sudah mulai menggigil nih! “ Mia kembali merajuk. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
“ Ya sudah, “ kataku pasrah. Dalam hati, aku berharap, nasibnya tidak setragis Kittyku yang pertama dan yang kedua.
“ Kasih nama siapa ya? “ tanya Mia saat kami sudah menaruhnya di dalam sebuah karton bekas. Cukup besar untuk dirinya.
“ Bagaimana dengan Kawaii? Dalam bahasa Jepang, Kawaii artinya lucu. Dia kan lucu! Selucu Kitty pertamaku! “ usulku bersemangat.
“ Nama yang bagus! Kawaii, sini! “ Mia mulai bermain-main dengannya. Aku sendiri mengambil bola bekel milik Mia dan mulai memberikannya pada Kawaii. Aku juga mulai bisa menggendong-gendong Kawaii yang awalnya, aku sendiri takut menggendongnya. Entah mengapa, sejak aku memelihara Kawaii di rumahku, hatiku mulai pulih. Rasa traumaku dalam memelihara kucing hilang perlahan. Kawaii memberiku pelangi di hidupku. Dan satu hal lagi. Sekarang, aku mulai menyayanginya. Menyayanginya seperti aku menyayangi Kitty-Kitty ku. Tapi, mungkin, aku akan memberikan kasih sayang ekstra yang selama ini tidak kuberikan pada Kitty-Kitty ku. Kawaii benar-benar mengubah pandanganku terhadapnya.
*****
“ Mia, Meta, mulai sekarang, kalian harus memberi pengawasan penuh pada Kawaii! “ kata Mama di suatu pagi.
“ Lho, kenapa? Kawaii kan, nggak kabur, kan? “ tanyaku agak heran.
“ Iya! Tapi, tadi ada anjing yang masuk. Anjing itu berniat menggigit Kawaii! Untung saja, Mama melihatnya dan langsung mengusir anjing tersebut! “ kata Mama lagi. Deg! Ada anjing masuk? Dari mana asalnya?
“ Sudahlah! Kalau begitu, kalian sarapan sana! “ kata Mama lagi. Aku segera berlari ke luar, berusaha menemukan Kawaii. Kulihat Kawaii sedang tidur di samping kartonnya. Aku menggendongnya perlahan. Kuraba badannya. Yang paling kutakutkan adalah, jangan sampai anjing itu melukai Kawaii. Tapi, tidak ada luka apa-apa di badannya. Dan aku kembali teringat. Kitty ku mati karena pengawasanku yang lengah hingga ada kucing yang menggigit lehernya hingga nyaris putus. Tapi, anjing ini mungkin agak berbeda. Kemarin, kulihat Kawaii juga nyaris digigit. Tapi kelihatannya, anjing itu nggak berniat menggigit Kawaii, dan hanya ingin bermain-main saja. Tapi, ini adalah pelajaran penting. Aku nggak boleh lengah dalam mengawasi Kawaii lagi.
*****
“ Kak Meta! Sini deh! Ada yang ingin aku tunjukkan! “ Mia menarik tanganku dan mengajakku keluar untuk melihat Kawaii. Aku setengah berlari menuju halaman depan rumahku. Kulihat Kawaii yang duduk di samping kartonnya, tapi ada yang sedikit berbeda...................
“ Kak, tadi aku menemukan anak kucing hitam lagi loh di jalan! Siapa tahu, dia bisa menjadi temannya Kawaii! Kan, lucu gitu ada dua ekor anak kucing yang duduk manis di depan pintu! “ kata Mia berseri-seri. Benar juga. Saat Kawaii dan anak kucing hitam itu bertemu, mereka akrab sekali.
“ Kita kasih nama dia Blackforrest! Gimana?! “ usulku lagi.
“ Boleh! “ kata Mia bersemangat. Aku semakin bersemangat saat melihat Kawaii dan Blackforrest seperti kakak beradik yang sangat akrab. Dan yang paling lucu, mereka selalu mengikutiku saat aku kemana pun, dan selalu duduk bersama di atas sandalku dan mamaku yang aku tinggalkan di luar.
*****
Hari Minggu. Hari yang sebenarnya aku nggak pingin ada. Hari yang nggak tepat buat Kawaii dan Blackforrest. Aku takut, ini adalah hari duka untukku saat tahu Kawaii dan Blackforrest tidak ada lagi di dunia.
“ Semoga Kawaii dan Blackforrest tidak mati hari ini, ya? “ mohonku. Aku hanya bisa berharap kalau Tuhan mau mengasihani Kawaii dan Blackforrest dan mengijinkan mereka tinggal di sini. Pasalnya, Kawaii baru kurawat lima hari, sedangkan Blackforrest baru tiga hari. Jantungku berdegup semakin kencang. Aku tidak ingin ada dua kuburan lagi di halaman depan rumahku.
Malamnya, tiba-tiba Mia menghampiriku setengah berlari.
“ Kenapa, Mi? “ tanyaku. Aku nggak berharap Mia datang dengan membawa berita buruk.
“ Mia senang! Kawaii dan Blackforrest belum mati! Mereka hebat! “ Mia seperti benar-benar bahagia. Ia menarikku keluar untuk melihat Kawaii dan Blackforrest. Benar saja! Kawaii dan Blackforrest masih duduk di atas sendalku. Aku bahagia. Bahagia sekali. Mungkin kali ini Tuhan ingin agar aku bisa mengurus Kawaii dan Blackforrest lebih baik lagi. Aku segera menggendong Kawaii dengan hati gembira. Aku berharap, mereka bisa terus bersamaku di sini. Mereka juga mengubah hari Minggu menjadi bukan hari duka lagi. Seandainya aku tidak memungut mereka, aku akan terus takut memelihara anak kucing lagi. Tuhan, semoga mereka bisa terus bersamaku selamanya.................
Komentar
Posting Komentar