Kamu dan Kenangan di Hari Kemarin

Hari ini ada seorang teman yang menanyakanku sebuah pertanyaan yang membuatku cukup berpikir:
"Apa ketakutan terbesarmu?"

Dan aku menjawab:
"Kehilangan orang yang aku sayang."

Namun, pertanyaan itu membuatku kembali berpikir, kenapa aku begitu takut kehilangan orang yang aku sayang?

Dan setelah aku merenungi selama tiga puluh menit (yah, emang sih terkadang aku membuang banyak waktu hanya untuk memikirkan hal-hal random. Huahahahhahaha..), aku sudah menemukan jawabannya. Jawaban itu pun aku temukan dari kejadian yang aku alami hari ini.

Jadi ceritanya, hari ini aku pergi ke Transmart di kotaku. Rencananya sih buat beli sembako untuk keluarga yang aku tumpangi selama aku live in beberapa hari ini. Dan sebelum berbelanja, aku dan teman-temanku melewati lantai khusus wahana bermain, dan disitulah tiba-tiba pikiranku membawaku ke 6 bulan yang lalu. Ada segelintir perasaan menyesal yang membuat hatiku sedikit nyeri hingga aku pun ngomong dalam hati, "Kenapa aku membiarkan peristiwa 6 bulan yang lalu itu harus terjadi?".

Aku nggak perlu mengatakan kejadian apa yang terjadi di Transmart itu, tapi aku tahu yang pasti adalah ketika aku mengingatnya kembali, luka itu akan muncul kembali ke permukaan.

Aku pernah menyukai teman dekatku sendiri. Pernah, jadi anggapannya sekarang udah ndak. Huahhahahahahahah..

Dan aku juga sebenarnya cukup tidak menyangka bahwa kami yang tidak pernah menyangka bisa saling suka, akhirnya saling suka. Namun apa daya, kita terkadang nggak bisa memilih orang yang kita suka, ya nggak? 

Singkat kata, aku pernah ingin menjalin hubungan yang serius dengannya, namun ternyata Tuhan punya rencana lain, aku sama dia akhirnya nggak jadi sama-sama. Huehehehehe..

Kalau ditanya, apa aku keberatan dengan keputusan Yang Maha Kuasa, aku bakal dengan yakin menjawab nggak. Kenapa? Karena I know He knows the best for me, jadi aku  bakal berusaha untuk tidak menentang apa yang Dia mau. Hal itu lah yang membuatku memutuskan untuk mengikhlaskan. Dan ketika seseorang menceritakan padaku kalau dia sudah punya pacar, aku tidak merasa sedih karena toh aku juga sudah mengikhlaskan. 

Namun yang aku sesalkan adalah, dari pengalaman 'ketidak-jadianku' dengannya, hal itu justru membuat pertemanan kami renggang. Persahabatan yang aku dan dia buat selama dua setengah tahun berantakan hanya karena kami memiliki keinginan untuk melewati kodrat kami yang seharusnya hanya sebagai sahabat, tidak lebih. Dan hal itu yang hingga hari ini aku sesalkan. Tentu saja ketika kami bersahabat, banyak kenangan menyenangkan yang aku buat bersamanya, termasuk hal yang terjadi di Transmart tersebut sehingga ketika aku mengunjungi wahana bermainnya pun, aku mulai merasa luka yang muncul kembali ke permukaan.

Aku bahagia ketika aku bisa tertawa bersamanya, ketika aku bisa bercerita banyak hal padanya, ketika aku mewek sewaktu nonton bersamanya, ketika aku mengaguminya bermain game dan juga ketika dia melakukan hal-hal kecil yang menujukkan kalau dia sebenarnya peduli. Di sisi lain, aku memang pernah terluka karena apa yang dia lakukan, tapi aku memikirkan banyak hal menyenangkan yang juga pernah kulakukan bersamanya, entah ketika kami masih seorang sahabat yang bener-bener sahabat, atau ketika kami mulai bergerak dari sahabat menjadi gebetan. Namun karena perasaan bahagia itu, tentu aku ingin mengulangnya di waktu yang akan datang, namun karena aku telah kehilangan dia, tentu saja hal itu tidak akan dilakukan lagi dalam jangka waktu dekat hingga kami bisa sama-sama dewasa dan kembali menjalin persahabatan seperti dulu. Itulah yang membuatku sedih. Perasaan ingin mengulang kembali, namun tidak bisa.

Dan hal itu pula yang sempat membuatku punya suatu ketakutan lain, yaitu untuk menjalin pertemanan yang akrab dengan cowok. Aku tidak jarang untuk merasa menyesal sudah dekat dengan teman lawan jenisku. Jujur. Karena hal itu akan membuatku menyayangi mereka sebagai teman dekatku, sebagai orang yang penting dalam hidupku, namun terkadang ketika ada salah satu pihak atau bahkan kedua belah pihak mulai menuntut lebih dari sekedar teman padahal sebenarnya takdir kami hanya untuk berteman, hal itulah yang pada akhirnya membuatku kehilangan mereka.

Dan kenangan hari-hari ketika kami menjadi teman dekat atau sahabat itu lah yang kemudian melukaiku, meracuniku, dan akhirnya membuat aku jujur, menyesal telah mengenal dekat mereka walau aku pun tidak menampik, bisa saja mereka pun beranggapan sama, menyesal telah mengenalku.

Itulah yang akhirnya aku sadari kenapa aku takut kehilangan orang yang aku sayang. Kenangan-kenangan yang kami buat bersama itu lah yang akan menjadi 'pisau' untukku. Aku terlalu bahagia bersama mereka hingga aku tidak ingin kehilangan mereka.

Kehilangan memang menakutkan, tapi hal yang menakutkan memang harus dihadapi. Dan tingkat kedewasaan seseorang juga ditentukan dari bagaimana dia bisa mengatasi rasa takutnya. Sayang, aku terkadang terlalu pengecut untuk menghadapi rasa takutku sehingga hal itu yang membuatku berusaha menjaga orang-orang yang aku sayang walau aku tahu, terkadang caraku di masa mendatang akan melukai mereka, bahkan dengan cara yang lebih kejam.

Hal itu lah yang kemudian mendorongku untuk belajar mengikhlaskan. Apa lagi yang bisa kulakukan selain mengikhlaskan? Aku tidak tahu cara ini akan berhasil atau tidak ke depannya, tapi aku cukup yakin, waktu juga akan membantuku untuk memahami 'ikhlas' dengan lebih matang.


Komentar

  1. Terkadang kita memang merasa sakit apabila seseorang meninggalkan kita,tapi kita harus mengerti memori tersebut bukanlah pisau yang akan menyakiti dirimu melainkan sebuah fondasi yang membuat kita dapat memilih siapa yang memang pantas dan patut untuk kita sayangi,tidak semua orang dapat memberikan hal yang sama seperti apa yang kita lakukan pada mereka,tapi ingatlah tidak ada kenangan yang buruk,semua yang terjadi dalam hidup kitalah yang membuat kita dapat berdiri dan tetap tegar di dunia ini.Anggap segala hal yang telah terjadi ini sebagai pembelajaran dan membuat kita menjadi semakin tegar bukannya malah menghindari kenangan yang akan kita buat,kita disini sekarang itu semua bukanlah suatu kebetulan,kita ada sekarang itu dikarenakan adanya rasa bahagia,rasa sakit,sedih dan nyaman.Kita dapat bertemu dan membuat kenangan juga adalah hal yang baik.Oleh karena itu aku janji sama kamu…..Aku gak bakal ninggalin kamu,aku gak bakal lupain kamu dan aku gak akan nyesel membuat memori dan kenangan indah bersamamu

    BalasHapus
  2. terkadang hal yg sulit dilakukan itu adalah hal yg seharusnya dilakukan, dalam hal ini mengikhlaskan seseorang. tak apa, km sdh melakukan hal yg "seharusnya" dilakukan dan bukan yg "ingin" dilakukan, itu tindakan berani. dan setelah ini jgn takut untuk jatuh cinta lg karena memang cinta datang tak diduga-duga jadi apa yg sdh terjadi kemarin itu hal yg wajar.

    BalasHapus
  3. Terkadang kita memiliki pertemanan yang cukup intens dan dekat dalam circle tertentu dan kita menikmati waktu-waktu tersebut tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, bisa disebut kenyamanan dan rasa bahagia "sebagai teman/sahabat" tak ingin cepat berlalu begitu saja dan berharap akan masih ada lagi kebahagiaan seperti ini yang ku temui.

    Tetapi tanpa kita sadari waktu membawa kita sampai dititik dimana kita baru menyadari hal itu sudah tiada. Rasanya waktu itu berlalu begitu cepat....

    Andai saja waktu bisa diputar kembali aku berharap aku bisa mengubah keadaan disaat itu untuk tidak menjadi seperti saat ini. Semakin dalam aku mengingat masa-masa itu lalu membandingkannya dengan keadaan yang sekarang, timbulah pertanyaan dalam pikiranku "kok bisa yaa aku sedekat itu sama dia?" sampai terkadang aku lupa dimana awal dari pertemuan kita....

    Dan memang benar "mengikhlaskan" adalah satu dari sekian cara yang paling ampuh untuk tetap menjalani hidup selanjutnya... meski terkadang bayang-bayang dari seseorang itu muncul secara tidak sengaja entah dari sebuah tempat, alunan sebuah lagu atau bahkan bau parfum.... sepintas hal-hal itu membuat hati sedikit terluka kembali tergantung kita menyikapinya.... semakin aku ingin mengingatnya lebih dalam atau langsung ku buang ingatan itu jauh-jauh...

    ya intinya kita harus berdamai masa lalu dan mengikhlaskan semua yang telah terjadi dan menjalaninya dengan cerita dan lembaran yang baru.



    Salam Kakak tingkat semasa kuliah,
    Hezki.

    BalasHapus
  4. Sangat sulit ketika menemukan seseorang yang telah kita tau bahwa ternyata dia yang bisa menyembuhkan trauma, dengan pertemuan yang sebentar tapi terlalu banyak kenangan yang sudah di lalui di setiap harinya , sampai akhirnya aku menyadari bahwa dia telah menginginkan diriku . Tapi apa daya , aku hanyalah seseorang yang terlalu berharap bisa hidup bersama dengan orang yang aku percaya dia lah yang bisa mengobatiku dan menghilangkan trauma dari segala semua yang aku lalui , tapi untungnya ada sebuah barang yang dia berikan kepadaku jadi ketika kita berpisah aku masih bisa mengingatnya , waktu berputar dan memang sungguh egois ketika kita harus melupakan satu sama lain dengan alasan yang menurutku itu tidak masuk akal , tapi kita terus bersama yang bisa dirasakan hanyalah rasa sakit hati , sungguh aneh memang hahaha BTW , Im still here with her bracelet --- even tho you didnt believe it exist

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

If it belongs to you, it will be yours.

Tentang Dia dari Tiga Tahun yang Lalu