Tentang Si Mama

Halooo..
Beberapa waktu ini sebenarnya aku tertarik menulis sesuatu yang berbau keluarga, tapi aku sendiri bingung apa yang perlu kutulis, hingga akhirnya tadi ketika aku mandi, aku mendapatkan ilham untuk nulis ini, dan sebelum ilham ini pergi entah kemana, aku buru-buru ngambil laptop dan voila! Aku akhirnya mengetik sesuatu! Huahahahahahahah...

Jadi, postinganku kali ini soal si Mama. Sebenarnya, aku ada perasaan cemas untuk nulis ini di blog, karena ada suatu ketika, saat aku dan Mama lagi nonton TV, tiba-tiba si Mama nyeletuk kalo dia baca blogku dan saat itu ia ngebaca postinganku soal cowok yang kalau kubaca lagi isi postingannya sekarang bisa membuat bulu kudukku merinding, produksi keringatku bertambah, perutku kembang kempis, dan hasrat pingin ketemu oppa-oppa BTS semakin tinggi (okey, yang ini emang nggak nyambung). Setelah tahu si Mama baca, AKU SEGERA MEMUSNAHKAN POSTINGAN TERSEBUT, walau aku tau semuanya sudah terlambat, hiks. Si Mama udah terlanjur tau kalo anak keduanya lagi jatuh cinta, otaknya hanya segede amuba.

Jadi, ada dua kemungkinan hal yang bakal terjadi padaku seandainya si Mama baca postinganku hari ini: Keke gak dapat makan sehari penuh, atau Keke malah bakal dikasih uang jajan di hari libur. Atau mungkin si Mama mau ngasih trip ke Korea gratis besoknya. Tapi kemungkinan yang ketiga ini rasanya nggak mungkin deh kecuali kalo tripnya jalan kaki, nggak pake pesawat. He he he.

Lalu kenapa akhirnya aku nulis ini kalo takut ketahuan?

Yah, karena pengen aja, dan alasan yang sudah dijelaskan di paragraf pertama. Wkwkwkwk..jadi apapun resikonya, 'KEKE IS A GENTLEMAN, SO I WILL BE RESPONSIBLE FOR WHAT I DID.'. Tunggu, aku kan cewek, kok gentleman.

Oke, aku mulai ceritanya.

Si Mama menurutku tipe yang cuek banget. Kalo aku denger cerita dari temen-temenku dimana mereka rutin tiap hari ditelpon sama mamanya, atau minimal seminggu nelpon lebih dari 4 kali, Mamaku bukan tipe kayak gitu. Seminggu bisa dua kali nelpon, bahkan pernah suatu ketika hingga dua minggu gak nelpon sama sekali. Memang waktu awal-awal merantau pas masuk SMA, si Mama lumayan sering nelpon, tapi semakin lama intensitasnya semakin kurang. Mungkin si Mama jadi jarang nelpon karena gak cemas anaknya ilang diculik karena siapa juga yang mau nyulik anak keduanya, atau mungkin si Mama lelah karena anak keduanya selalu silent hape, jadi percuma juga kalo ditelpon. Huahahahahahahaha..

Aku juga jarang cerita-cerita ditelpon sama Mama. Kalo biasanya teman-teman cewekku yang LDR-an sama ortunya dan pas ditelpon mamanya bisa cerita panjang lebar entah soal cowok, soal kuliah, atau bahkan soal sabun cuci muka yang harus dipake, aku nggak. Obrolan ditelpon hanya sekedar, "Lagi apa?", "Sudah makan?", "Makan apa?", "Gimana kuliahmu?", atau "Gimana tugas-tugasmu?". Yahhhh..obrolannya seperti cowok yang lagi PDKT sama cewek, tapi si cowok nggak punya persiapan untuk nyari topik. Yang gak so sweet gimana gituuu..

OHHHH..tapi ada sih ucapan mamaku yang menurutku so sweet,"Mama udah transfer uang jajanmu yah." 
He he he.

Yah, walau sesekali aku curhat, tapi intinya adalah pembicaraan yang biasanya kulakukan adalah mengenai hal-hal di atas. Gak se-so sweet mama-mama lainnya lah.

Lalu pas balik ke kampung halaman, akhirnya ada beberapa hari dimana aku dan si Mama cuma berdua di rumah. Si Papa kerja di luar kota biar kebutuhan pangan, sandang, dan papan anak-anaknya terpenuhi, si Cici biasa dengan urusan kantor, dan si dedek udah balik lebih dulu buat ngurus kuliahnya. Dan begitulah, tersisa si Mama dan anak babi kesayangannya. He he he.

Tiba-tiba, ketika aku lagi nonton drama korea seperti biasa, si Mama mulai nanya, "Nilai p3mu sudah keluar kan? Sudah bisa revisi skripsi?" dan aku yang notabene adalah mahasiswa yang sedang menikmati kebahagiaan liburan cuma bisa nyengir, "Belum. He he he.". Dan dari hari itulah si Mama mulai nanya-nanyain revisianku, ngejar aku buat segera nyelesaiin revisiannya, dan ngomel-ngomel kalo aku nonton drama korea, padahal kalo liat aku nonton biasanya Mamaku bakal duduk di singgasananya, lalu ikutan nonton.

Setelah sekian lama, akhirnya si Mama ngecerewetin aku di luar topik, "Keke yang waktu makannya itu seenak jidatnya kalo di Surabaya" dan "Keke yang waktu tidurnya kayak hewan nokturnal".

Dan perihal Mamaku tiba-tiba tau kalau nilai p3ku sudah keluar, sebenarnya si Mama liatin story instagramku yang ngomong kalau nilai p3ku udah keluar. Iyah, si Mama emang gaul. Tapi karena kegaulannya itu, dia jadi mudah mengawasi anak-anaknya siapa tau ada anaknya yang nge-post sesuatu yang melenceng, dan tentunya yang dicurigai adalah AKU.

Itu juga yang membuatku terkejut sih. Walau si Mama emang keliatannya cuek-cuek aja, dia ternyata sama saja dengan mama-mama lainnya yang suka kepo mengenai anak-anaknya. Dan berhubung aku di rumah berdua saja dengan si Mama, si Mama jadi doyan cerita dan kebersamaan kami berdua inilah yang memberikannya peluang untuk nge-kepo-in urusan cinta-cintaanku.

Padahal sebelum-sebelumnya, aku cukup tertutup masalah cowok dengan Mamaku dan kupikir, si Mama gak gitu peduli masalah itu. Ternyata si Mama emang penasaran, cuma ditahan aja. Takut aku salah paham. Tapi ketika waktunya tiba untuk nge-kepo-in...

"Kamu kok bisa dekat dengan dia?"

"Orang mana dia?"

"Dia orangnya gimana memangnya?"

"Mana fotonya? Mama mau liat."

"Dia mau gak kalo besok Mama nikahin?' ndak ndak, kalo yang ini aku bercanda. Huahahahaha..

Yah begitulah, dasarnya udah mama-mama.

Jadi sebenarnya, hmmmm...mungkin kalian ngerasa orangtua kalian atau dalam hal ini mama kalian terkesan cuek, dia bukan berarti nggak peduli dan nggak penasaran dengan apa yang terjadi pada kalian. Dia punya caranya sendiri dan waktunya sendiri untuk nge-kepo-in atau ngecerewetin kalian kok. Cuma kalau mereka belum kepo atau belum cerewet, mungkin mereka ngerasa waktunya aja yang belum tepat untuk melakukannya atau belum nemu momen yang pas buat mengungkapkan isi hatinya. Mungkin ortu kalian kayak si Mama yang nggak nanya apa-apa padahal penasaran banget, tapi bisa aja sekalinya dapat kesempatan buat mengobati rasa penasarannya, yah jadi semacam wartawan berita skandal selebritis, nanyanya bisa macem-macem.

Yang jelas, orangtua pada dasarnya punya naluri untuk penasaran dan juga peduli sama hidup anaknya lah. Dan kita sebagai anak, yaaaahhh..cukup memahami mereka saja deh. Toh, mungkin di masa depan kita yang bakal punya posisi seperti mereka. He he he.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

If it belongs to you, it will be yours.

Kamu dan Kenangan di Hari Kemarin

Tentang Dia dari Tiga Tahun yang Lalu