How To Be A True Friend (2)

Halooo...hahaha...diriku kembali lagi walau udah nggak tahu berapa lama ngilang. Hahaha...
Yah..seperti biasa, aku kembali mendapatkan inspirasi untuk menulis. Hmmm...dan inspirasi ini datang pula dari relasiku dengan orang lain. Ahahaha...

Well, kalo kalian baca postinganku sebelum-sebelumnya, aku kan pernah nyeritain soal sahabatku waktu SMA. Nahh...jadi sekarang aku akan nyeritain lagi soal sahabatku. Tapi di kuliah. Dan goalnya masih tetep sama: bagaimana menjadi seorang sahabat. Yang baik tentunya. Ahahaha...

Jadi ceritanya, di kampus, aku semakin menyadari bahwa aku harus menjalin relasi dengan banyak orang, baik di fakultasku maupun yang nggak. Dan banyak juga yang pada akhirnya dekat dan menjadi sahabat. Bukan pacar. Karena temen-temenku cewek. Dan aku doyan cowok *Keke kumat lagi kan gejenya*. Yang mau kuceritain pertama kali adalah soal teman-teman yang aku deket di semester 1, walau di semester 2 masih tetep dekat, cuma nggak seberapa dekat lagi. Hahaha...jadi ceritanya, di semester 1, aku bersahabat dengan 5 orang. 3 dari fakultasku, 2 dari fakultas lain. Kami sering hangout bareng, bahkan ngerayain ultah kayak orang gila. Hahahaha...tapi berhubung akhirnya di semester 2 aku memisahkan diri dari 3 orang yang berasal dari fakultasku itu, aku jadi gak deket lagi bersama mereka karena aku memaklumi, kita memiliki kesibukan yang berbeda-beda walau nggak bisa kupungkiri juga sih, aku terkadang kecewa ketika mereka hangout tanpa diriku. Ahahaha...maklum, masa labilku belum lewat jadi perasaan childish itu pasti masih melekat. Ahahaha...tapi lama kelamaan, dengan kehadiran teman-teman baru di semester 2, aku mulai bisa menerima dengan lapang dada hal tersebut. Hahaha...dan yang membuatku terkejut, ternyata baru-baru ini aku baru mendapatkan kabar dari seorang temanku yang juga lumayan dekat dengan diriku bahwa salah satu dari tiga temanku ini memiliki konflik dengan kedua orang lainnya. Sebenarnya hal sepele sih, yaitu karena merasa tidak diperhatikan. Waktu aku mendengar hal itu, sebenarnya yang ada di benakku cuma satu hal: 'Kok bisa?'. Yaahh...memang sih, aku sampai sekarang masih memikirkan, kok bisa yah suatu persahabatan rusak hanya karena kekecewaan terhadap hal sepele. Apakah makna dari persahabatan hanya saling memperhatikan? Apakah selama ini waktu-waktu berharga yang terlewati bersama sahabat itu bukan nilai tambah dalam mempertimbangkan untuk mempertahankan suatu persahabatan? Apakah seratus kebahagiaan yang dirasakan bersama sahabat menjadi useless ketika muncul satu kekecewaan? Itu lah yang terus kupikirkan hingga saat ini. 

Yahh..jadi dengan penjelasan panjang x lebar x tinggiku tadi, aku tuh memetik suatu hal dari konflik antara tiga sahabatku ini. Persahabatan tuh bukan sebatas kamu tok yang mau diperhatiin. Sahabat tuh bukan pelayan yang kerjaannya merhatiin kamu terus, ngehibur waktu kamu sedih, ngajak hangout waktu kamu lagi galau. Persahabatan tuh bukan soal seneng di satu pihak, dan yang lainnya berusaha menyenangkanmu. Itu namanya EGOIS. Sahabat itu memang sih orang-orang yang katanya adalah orang yang memperhatikan kita lebih. Tapi itu bukan tujuan dari suatu persahabatan. Tujuan dari persahabatan itu ketika kita bisa saling membangun, saling care satu sama lain, nggak cuma satu pihak, bisa have fun dengan menjadi dirimu sendiri, dan tentunya seorang sahabat akan menerima kamu apa adanya. Kok ini aku berasa jadi bahas pacar idaman yah, bukan sahabat?-.- Yahhh...pokoknya begitu lahh..

Cerita kedua adalah soal sahabat-sahabatku di semester 2. Tapi bukan temen fakultasku, melainkan mereka semua berbeda fakultas. Awalnya aku bingung kok bisa dekat dengan mereka. Ahahaha...tapi mungkin begitulah jalan Tuhan hingga akhirnya aku dipertemukan pada mereka #eaaa 
Awalnya aku tuh ngerasa persahabatan kami baik-baik saja. Tapi lama kelamaan, konflik yang muncul juga semakin banyak. Dan kami pun akhirnya melihat karakter sesungguhnya satu sama lain. Baru-baru ini, temenku sebut saja A berkonflik dengan temanku yang berinisial B. Sebelumnya, masalahku dengan si B ini cukup banyak hingga si B bahkan dengan mudahnya mengucapkan "Apa kita nggak usah temenan aja ya?". Sebenarnya, itu sih pilihan dia mau temenen atau nggak, jadi aku nggak gitu nanggepin karena saat itu aku merasa situasinya kebalik. Harusnya aku yang mengucapkan hal itu, bukan dia. Yah pada akhirnya aku baikan sih sama dia, cuma tentu saja aku jadi tau dia yang sebenarnya itu seperti apa. Ketika temenku si A ini ternyata berkonflik lagi dengan si B, aku hanya bisa menasihati si A bahwa memang begitulah si B. Dan entah mengapa, perasaan kesalku pada si B muncul lagi, padahal masalah tersebut menyangkut A dan B. 

Jadiii..dari pengalaman itulah, aku juga mulai belajar mengintrospeksi diri. Aku berusaha mengingat diriku yang telah dianggap sahabat olehnya, dan perilaku pun harus mencerminkan seorang sahabat. Sahabat tuh yang jelas akan berusaha membuat sahabatnya lebih baik walau itu hal yang sulit. Dan seperti yang kujelaskan di atas, sahabat itu akan menerima kekurangan sahabatnya itu. Susah sih, tapi begitulah etikanya. Hahahaha...

Yah..setelah lama berkoar-koar gak jelas, maka aku pun akan menutup postingan ini dengan ucapan terima kasih bagi yang telah membaca. Hahaha...merasa terharu banget bagi yang udah bela-belain ngeluangin waktunya untuk membaca tulisan gak jelas yang aku buat sambil setengah mengantuk ini. Hahaha...oke deh, lain kali aku akan nulis postingan lain dengan isi yang mungkin bakal lebih jelas. Hahahaha....byeee!! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

If it belongs to you, it will be yours.

Kamu dan Kenangan di Hari Kemarin

Tentang Dia dari Tiga Tahun yang Lalu