Secret


         Menurutku, jam kosong adalah saat yang sangat menyenangkan bagi kami. Bukannya kami tidak ingin pintar karena senang saat guru yang harusnya mengajar tidak hadir karena berhalangan. Aku hanya ingin, sekali-sekali saja jam kosong. Tujuannya, adalah untuk merilekskan pikiranku. Dan saat aku benar-benar sedang tidak ada mood untuk belajar, menulis, atau mendengarkan ocehan guru, aku benar-benar berharap guru yang akan mengajar sakit, atau berhalangan hadir.
            Tiba-tiba, Hanny menarik tanganku, dan menuju bangkunya.
            “Rin, ada rahasia yang ingin kubagi denganmu. Habisnya, aku bingung mau cerita ke siapa, soalnya, kamu kan, memang ahli dalam memberikan saran,” kata Hanny.
            “Memang, kamu mau cerita apa?” tanyaku penasaran. Hanny lalu melirik ke kanan dan ke kiri, berusaha memastikan tidak ada siapapun yang akan menguping pembicaraan kami.
            “Begini, kamu tahu Kak Shani, kan?” tanya Hanny.
            “Iya, kakak kelas kita, kan yang di kelas XI E?” balasku.
            “Iya. Jadi, waktu itu, aku baru pulang dari les. Kebetulan, aku satu tempat les dengan Kak Shani dan Kak Mario. Dan, pas aku pulang, keadaan tempat les itu jadi sepi. Aku lalu mutusin ke kelas High Grade, kelasnya Kak Shani dan Kak Mario di tempat lesku dengan tujuan hanya iseng. Lalu, aku nggak sengaja melihat Kak Shani itu ciuman bareng Kak Mario,” kata Hanny dengan suara sepelan mungkin.
            “Loh, Kak Mario bukannya sedang berpacaran dengan Kak Nala?” tanyaku.
            “Nah, itu yang jadi masalahnya! Lalu, aku ketangkap basah ngelihat mereka bermesra-mesraan,” balas Hanny.
            “Lalu, kamu mau minta pendapat apa dariku?” tanyaku lagi.
            “Jadi gini, aku kan, kenal dekat Kak Shani. Lalu, Kak Shani minta aku untuk merahasiakan hal ini dari siapapun. Padahal, aku merasa perlu memberitahu Kak Nala kalau Kak Mario selingkuh. Tapi, aku terlanjur janji,” kata Hanny kemudian.
            “Terus, apa Kak Shani tahu kalau Kak Mario pacaran dengan Kak Nala?” tanyaku lagi.
            “Katanya sih, Kak Shani tahu. Tapi, dia bilang, ia sudah terlanjur sayang ke Kak Mario. Apalagi, katanya, ia sudah pernah free sex dengan Kak Mario. Jadi, ia nggak mau lepasin Kak Mario. Dan lagi, Kak Shani juga bilang, Kak Mario lebih cinta dia daripada sama Kak Nala,” jawab Hanny panjang lebar.
            “Lalu, kembali ke topik utama. Jadi, masalahmu apa?” tanyaku lagi.
            “Ya elah, kukira kamu sudah ngerti! Jadi, apa aku harus kasih tahu Kak Nala untuk kepentingan Kak Nala, atau menjaga rahasia Kak Shani? Habisnya, yang kudengar, Kak Nala juga sudah pernah ciuman sama Kak Mario, tapi belum nge-seks sama Kak Mario. Aku kan takut, kalau nanti Kak Nala nge-seks sama Kak Mario, Kak Nala jadi kena penyakit kelamin, karena Kak Mario sudah pernah nge-seks dengan orang lain. Kak Nala itu juga baik hati, aku nggak tega kalau nggak ngasih tahu,” kata Hanny panjang lebar. Aku mengerutkan keningku. Memang masalahnya rumit.
            “Menurutku, kamu mending jaga rahasia Kak Shani dulu. Kasihan kalau Kak Nala tahu. Di sisi lain, kamu tidak akan dipercayai lagi oleh orang lain. Tapi, untuk kepentingan Kak Nala, mending kamu kasih tahu ke Kak Nala, bahaya dari free sex, biar Kak Nala tidak melakukannya. Untuk selingkuh atau tidaknya, agak rumit. Kamu ngusulin ke Kak Nala, selidikin saja Kak Mario, soalnya, Kak Mario sepertinya mencurigakan gitu. Nanti, kalau Kak Nala tahu Kak Mario selingkuh itu kan, dari hasil penyelidikannya, bukan dari kamu,” kataku mengusulkan. Hanny tampak berfikir, lalu tersenyum puas.
            “Makasih ya, Rin! Kamu memang handal dalam memberikan saran,” kata Hanny berseri-seri. Aku mengangguk.
*****
            Esoknya di tempat lain, di kelas XI E..
            “Shani!” bentak Nala dengan suara tinggi. Anak-anak yang sedang mengobrol di kelas itu tiba-tiba mengalihkan pandangannya kepada Nala. Shani yang sedang membaca buku Biologi, sontak kaget dengan teriakan Nala.
            “Kenapa,La? Pagi-pagi kok, ribut banget?” tanya Shani.
            “Alah, kamu jangan pura-pura bego, ya! Jangan kamu mikir aku nggak tahu perbuatan kamu!” bentak Nala sambil menatap tajam, seolah-olah ingin membunuh Shani.
            “Kamu bicara apa, sih? Jujur, aku nggak mengerti,” kata Shani dengan suara agak lembut.
            “Udah, lah! Berhenti dengan sikap sok manismu! Kamu kira, dengan bersikap manis ke aku, masalahmu denganku selesai gitu saja? Mimpi!” balas Nala dengan suara tinggi. Dan dalam sekejap, mereka berdua sudah menjadi tontonan satu kelas.
            “Ada apa nih, pagi-pagi sudah ribut?” tanya Mario yang tiba-tiba datang, dan berusaha melerai kedua cewek itu.
            “Mending, kamu diam saja, deh! Dasar cowok bajingan! Kamu tahu nggak, semua masalah ini bermula dari kamu!” bentak Nala.
            “Yang, kamu bicara apa, sih? Aku benar-benar nggak ngerti,” kata Mario dengan suara melembut.
            “Udahlah, berhenti manggil aku sayang! Sayangmu itu Shani, kan? Sayangmu yang bisa diajak nge-seks, kan?!” tukas Nala. Dan, semua pandangan tertarik yang ditujukan kepada mereka berubah dengan pandangan menjijikkan yang ditujukan kepada Shani dan Mario.
            “Kamu jangan ngomong asal, deh!” bentak Mario.
            “Hah? Ngomong asal? Apa aku ngomong asal saat melihat video kamu nge-seks dengan Shani?” balas Nala sinis.
            “Vi..video apa?” tanya Shani angkat suara. Nala yang sudah terbakar emosi pun, mengeluarkan ponselnya dan memutar video yang ia maksud. Shani dan Mario terpaku menatap video pada ponsel Nala tersebut.
            “Da..darimana kamu dapatkan video itu?” tanya Mario gugup.
            “Dari agenku yang berhasil mencuri video ini dari hpmu saat ia meminjam hpmu,” balas Nala dengan tatapan menusuk.
            “Ja..jadi, kamu merekamnya?” tanya Shani pada Mario sambil berlinangan air mata.
            “Hmm...iya,” jawab Mario terbata-bata.
            “Brengsek!! Kamu bilang, kamu tidak akan pernah merekam hal tersebut! Kenapa kamu melanggarnya?! Katanya kamu sayang ke aku?! Kalau kamu sayang, kamu tidak perlu merekamnya!!” bentak Shani dengan suara serak.
            “A..aku merekamnya u..untuk kenangan kita,” balas Mario gugup.
            “Kenangan apa?! Apa perlu membuat kenangan dengan cara merekam video saat kita melakukan seks?!” bentak Shani lagi.
            “Kamu juga cewek murahan! Mau saja diajak nge-seks! Lagian, kamu terlalu lugu dan bodoh saat melihat gelagat mencuriganku!” balas Mario sengit.
            “Aku sayang kamu, makanya aku rela melakukan ini!” balas Shani.
            “Karena sayang itulah, kamu jadi makhluk superbego yang pernah kutemui!” jawab Mario sambil melenggang pergi. Shani hanya bisa terduduk di bangkunya, sambil meratapi aib yang ia terima atas perbuatannya...
*****
            “Erin! Ada sesuatu yang gawat!” kata Hanny sambil berlari terburu-buru ke bangkuku. Aku yang sedang asyik membaca komik agak kaget juga dengan ekspresi wajah Hanny yang pucat pasi.
            “Kenapa, Han? Kok kamu kayak dikejar-kejar hantu? Raut wajahmu juga panik banget! Ada apa?” tanyaku heran.
            “Gini, soal Kak Shani dan Kak Mario, ternyata Kak Nala sudah tahu!” jawab Hanny dengan nada tergesa-gesa.
            “Hah?! Kok bisa? Kamu yang kasih tahu, ya? Kan sudah kubilang, hal seperti ini kamu tidak perlu memberitahukannya pada Kak Nala!” kataku lagi.
            “Yee, nuduh sembarangan! Yang jelas, sewaktu aku mau bilang ke Kak Nala, bahayanya seks, tiba-tiba Kak Nala nimpal gini ke aku,’Karena Mario sudah pernah nge-seks sama orang lain termasuk sama Shani, kan?’. Aku kaget banget waktu tahu Kak Nala sudah tahu kalau Kak Mario nge-seks sama Kak Shani,” balas Hanny.
`           “Yah, kalau gitu kan, nggak masalah, selama satu sekolah nggak ada yang tahu,” ucapku sambil kembali membaca komik.
            “Nah, itu dia masalahnya!” timpal Hanny.
            “Loh, masalahnya apa?” jawabku tidak mengerti.
            “Ternyata, saking dendamnya sama Kak Shani dan Kak Mario, Kak Nala menyebarkan hal itu ke satu penjuru sekolah. Makanya, pas tadi kulihat Kak Shani di kelasnya, Kak Shani lagi nangis. Matanya bengkak banget. Hidungnya juga merah. Dan lagi, teman-teman satu kelasnya terus mencelanya,” kata Hanny panjang lebar.
            “Wuah, gawat banget! Kak Shani itu kan, baik. Kasihan banget kalau dia sampai di keluarkan dari sekolah karena hal itu,” balasku.
            “Iya. Tapi, aku juga nih, yang kena masalah. Pasalnya, Kak Shani hanya tahu kalau baru aku saja yang mengetahui kalau Kak Shani pernah ciuman, bahkan nge-seks sama Kak Mario. Jadi, mungkin Kak Shani akan dendam seumur hidup ke aku, karena dia mengira, aku melanggar janjinya untuk memberitahukan kepada siapapun, padahal aku benar-benar tutup mulut,” tutur Hanny lagi. Aku menepuk-nepuk pundaknya.
            “Yah, seperti pepatah bilang, ‘bangkai yang disembunyikan, pasti lama-kelamaan akan tercium bau busuknya’. Jadi, sebelum terlambat, aku memberitahukan kepadamu, agar kamu tidak melakukan hal tercela seperti yang dilakukan Kak Shani dan Kak Mario. Buktinya, sekarang mereka akan menerima resiko atas perbuatan mereka,” kataku. Hanny mengangguk.
            “Jadi, apa yang harus kulakukan kepada Kak Shani? Aku kan, kasihan banget sama Kak Shani. Kemana-mana, selalu dicela. Dianggap cewek murahan. Belum lagi, bahaya nge-seks yang akan ia terima suatu saat nanti,” tanya Hanny lagi kepadaku. Aku pun kembali berfikir.
            “Kamu bersikap biasa saja. Saat Kak Shani mengacuhkanmu, kamu tidak usah terlalu mengambil hati. Kak Shani sedang dalam keadaan depresi berat dengan beredarnya berita soal perbuatan hina yang ia lakukan bersama Kak Mario. Lalu, kamu bisa tetap peduli padanya. Berikan ia penghiburan saat ia sedang sedih. Semuanya tergantung pada waktu. Jadi, bilanglah pada Kak Shani, dengan bersikap ramah kepada semua orang, semua orang akan mulai melupakan berita tersebut,” kataku panjang lebar. Hanny lalu tersenyum tipis.
            “Makasih ya, Rin. Kamu memang sahabatku,” kata Hanny. Aku lalu memeluknya.
            “Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa yang akan dilakukan Kak Shani kepadamu. Semuanya tergantung Tuhan. Tuhanlah yang mengatur semua ini. Kamu cukup menjalaninya,” kataku lagi. Hanny kembali tersenyum, dan kami hanyut dalam diam.
*****
            Bangkai yang disimpan, lama-kelamaan akan tercium bau busuknya. Begitu juga aib yang kita sembunyikan dari orang lain, lama-kelamaan akan diketahui orang lain. Karena itu, daripada kita capek untuk berbohong dan menutupi aib kita sendiri, lebih baik menghindari berbuat hal hina, agar nama kita selalu bersih di mata orang lain..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

If it belongs to you, it will be yours.

Kamu dan Kenangan di Hari Kemarin

Tentang Dia dari Tiga Tahun yang Lalu