Kamu
Hal yang paling bodoh yang pernah kulakukan semasa hidupku adalah menangisi orang yang sangat kubenci. Orang yang sering membuatku terluka, tapi sering membuatku terbuai. Orang yang sangat kubenci itu adalah kamu.
*****
Kamu menatapku dingin, membuatku gugup. Tak seperti biasanya kamu begini. Menatapku dengan tatapan sedingin es, yang membuatku tak sanggup untuk menatapnya begitu lama, walau aku harus sadari, tatapan itu pula yang membuatku terpesona. Kamu mulai angkat bicara, tapi aku benar-benar ingin menutup telingaku, sebab, aku merasakan, feelingku berkata, ini bukan sesuatu yang kuharapkan. Walau belum tentu feeling benar, tapi feeling itu, kan bisa jadi pertanda? Apa gunanya Tuhan memberikan intuisi kepada manusia kalau tak digunakan?
“Ada hal yang ingin kukatakan,” ucapmu. Suaramu juga terdengar tak kalah dingin dengan tatapanmu. Aku semakin gugup. Suaramu yang sering menyapaku dengan manja, kini seolah sirna. Suaramu lebih tepatnya adalah untuk menghakimi.
“Apa?” tanyaku gugup. Aku tak berani menatap matanya, dan tak kuat mendengarkan perkataan selanjutnya yang akan dilontarkannya.
“Aku ingin putus,” katamu dengan suara yang semakin dingin. Kini aku benar-benar merasakan dingin yang luar biasa. Perkataanmu tadi benar-benar menghujam hatiku dengan keras, seperti sebuah peluru yang terasa dingin. Cepat, sakit, dan membuatku menggigil. Aku menatapnya. Kini tatapannya berubah. Tatapan sayang yang sudah tak kulihat lagi dari bola matanya. Sungguh sakit.
“Baik,” kataku dengan suara parau. Jangan menangis! Jeritku dalam hati. Tapi jeritanku itulah yang membuatku menangis.
“Aku tak sanggup menjalani hubungan ini lagi,” katanya, lalu pergi meninggalkanku sendirian sambil menangis. Menangisi kepergiannya.
*****
I HATE U, BOY! FOREVER! Tulisan itu kini terpampang dengan besar di salah satu kertas yang ada di binderku. Rasa sakit dan perih yang kualami. Jujur, aku belum siap dengan semua ini. Terbayang-bayang di kepalaku ucapannya yang menusuk dengan tajam, tepat di ulu hatiku. Sungguh, rasa sakitnya benar-benar luar biasa. Aku saja sampai tak menyangka kalau mataku akan begitu bengkak dan merah karena menangisi cowok brengsek seperti dia, tapi apa dayaku? Aku benar-benar sakit hati.
*****
“Kudengar kamu putus ya, sama si Dio?” tanya Ala padaku saat jam istrirahat.
“Tahu darimana kamu?” tanyaku agak cuek.
“Ya elah, semua anak juga sudah pada tahu, kali!” timpal Ala. Aku menyipitkan mataku ke arahnya.
“Masa? Mereka tahu darimana?” tanyaku agak sinis.
“Entahlah. Kamu tahu kan, gosip itu nggak akan berhenti di satu orang. Mereka akan terus menyebar, menyebar, menyebar, dan menye...”
“Sudah, cukup!” balasku ketus.
“Memang kamu dengan Dio kenapa putus? Sayang loh, padahal bentar lagi setahun,” balas Ala.
“Aku juga mana ngerti sama cowok nggak jelas gitu, brengsek, bego, dan sebagainya,” balasku ketus.
“Ye...tapi aku dengar nih ya, kamu diputusin Dio karena kamu bohong ya, sama dia? Katanya, kamu sudah janji dengan dia untuk jaga jarak dengan teman-teman cowokmu. Tapi, kamu malah masih dekat dengan mereka,” balas Ala.
“Ah?!” Aku tersentak kaget. Tak kuduga, beberapa orang menoleh ke arahku, mencari orang yang berteriak tadi.
“Jangan segitu hebohnya, kali! Tapi, masa kamu nggak tahu? Bukannya yang ngejalin hubungan itu kamu dan Dio?” tanya Ala sambil menyeruput es sirupnya.
“Beneran deh, aku nggak tahu. Kemarin memang aku tanya dia lewat sms, tapi dia bilang, dia nggak akan pernah bilang apa yang membuat ia mutusin aku,” balasku.
“Ya sudah. Tapi, kamu baik-baik saja, kan?” tanya Ala padaku.
“Yee...orang lagi broken heart gini dibilang baik-baik saja. Memang hatiku dari baja apa?” tanyaku ketus. Ala hanya tertawa.
*****
Tambah satu daftar kebencianku terhadap kamu.
Egois, karena memang sewaktu aku jalani hubungan sama kamu, kamu selalu anggap kamu yang paling benar, dan aku yang paling salah.
Protektif, karena kamu ngebatasin aku bergaul dengan teman-teman dekat cowokku. Aku kan, nggak begitu ngebatasin kamu dengan teman-teman cewekmu!
Aku sudah menjauhi teman cowokku, dan kamu masih nganggap itu kurang! Mau kamu itu apa, sih?!
Nyebelin, karena kamu nggak biarin aku berubah. Kamu mau aku terjebak dalam kesalahanku, tanpa mau menegurku!
Pokoknya, kamu brengsek! Cowok nggak punya hati! Dingin! Virus!
*****
“Eh, kudengar, si Dio itu lagi naksir sama Nala, ya?” tanya Ala sambil menikmati bakminya.
“Ah?! Masa?” tanyaku tidak percaya. Lagi-lagi, aku membuat beberapa orang menoleh ke arahku.
“Ya ampun, Si, jangan segitu kerasnya suaramu dong! Kayak toa saja!” balas Ala.
“Iya, deh. Sori. Memang, kamu tahu gosip itu dari siapa?” tanyaku nggak percaya. Pasalnya, aku dengan Dio kan, putusnya baru seminggu.
“Biasa, dari teman-temannya. Terus, aku ngepastiin gosip itu ke sahabat kentalnya Dio, si Andra. Si Andra juga bilang gitu. Dio lagi suka banget sama Nala. Katanya, anaknya cantik, pinter, baik, perha...”
“Cukup! Cukup!” teriakku sambil menutup kedua telingaku.
“Kamu kenapa sih, Si?” tanya Ala bingung melihat reaksiku.
“Kamu tahu nggak, hatiku ini belum sepenuhnya pulih. Aku masih sayang banget sama dia, dan sekarang, kamu ceritain ke aku soal Dio yang tergila-gila sama Nala!” kataku dengan nada tinggi.
“Iya..iya. Ya sudah, kita lanjut makan saja, daripada kamu teriak lagi. Kamu bakat tahu jadi speaker!” balas Ala sambil kembali menikmati bakminya.
*****
Buaya! Jadi, si Nala itu memang sudah ngerasuki kamu, ya? Aku tahu, banyak hal baik yang ada pada Nala. Tapi apa karena dia kamu juga tega ngeninggalin aku! Dasar buaya!!
*****
“Si, tadi, pas aku ke lab Kimia, aku kan, berpapasan sama si Andra, sahabat dekatnya Dio. Dia bilang, ‘Eh, bilangin deh, sama teman kamu itu, alias mantannya Dio, kalau putus, terima saja, nggak usah jelek-jelekkin dia. Nggak fair banget! Kasihan tahu, si Dio itu! Dia itu baik, tapi namanya jadi agak tercoreng karena mantannya yang maki-maki dia ke semua orang! Makanya, si Dio itu kesal banget, sampai-sampai ngecap mantannya itu musuh beratnya,’. Memang benar gitu ya, Si?” tanya Ala padaku. Aku menelan ludahku. Aku kesal mengatakannya, tapi memang begitulah adanya. Aku mengangguk pelan.
“Si, nggak usah segitunya kali. Aku juga sependapat sama si Andra. Masa, gara-gara putus saja kamu jelek-jelekkin Dio ke teman-temanmu. Kalau aku jadi Dio juga, aku pasti bakal marah,” balas Ala. Aku mengangguk. Tak sanggup kukeluarkan kata-kata lagi. Memang, aku tahu perbuatanku itu keterlaluan. Tapi, aku benar-benar kesal sama dia.
“Si, aku baca di buku, orang yang gitu, tandanya masih sayang sama mantannya. Karena masih sayang itulah, dia berusaha ngelupain mantannya dengan ngejelek-jelekkin mantannya. Si, aku juga tahu, kamu kesal sama Dio, tapi di samping itu, kamu masih sayang sama dia, makanya kamu jelek-jelekkin dia biar kamu bisa ngelupain dia. Iya, kan?” tanya Ala sambil merangkul pundakku. Aku mengangguk. Ya, semua yang Ala katakan memang benar. Aku menjelek-jelekkan Dio biar aku melupakan dia dengan cepat.
“Si, biar kamu bisa ngelupain Dio dengan cepat, caranya kamu nggak usah mikirin dia. Jalani hidup dengan santai, tanpa ada rasa kesal. Aku yakin dan percaya, cepat atau lambat, kamu akan ngelupain Dio,” kata Ala lagi. Aku memeluknya.
*****
Aku mengetik sebuah sms singkat, eh nggak singkat juga sih, sebenarnya. Sms itu kutujukan buat kamu.
“Di, aku harus mengatakan ini, biar hatiku lega. Aku sebenarnya masih sayang kamu. Yah, walau aku sering ngejelek-jelekkin kamu di depan banyak orang, dan aku sering bilang nyesel sudah kenal kamu, tapi sejujurnya, aku masih sayang sama kamu, dan aku nggak pernah nyesel sudah kenal kamu. Kamu adalah cowok pertama yang benar-benar bikin aku bahagia banget. Kamu selalu membuatku tenang, dan jujur saja, aku bangga punya cowok kayak kamu. Aku memang bilang ke semua orang, aku benci kamu, tapi di samping itu, aku masih sayang sama kamu. Aku nggak bisa ngelupain kamu, apalagi masa-masa kita sama-sama dulu. Aku nggak minta kita balikan, karena aku tahu, itu hal yang mustahil. Jadi, aku cuma mau bilang, aku sayang kamu (banget).
Lalu, aku menekan tombol send. Dan smsku terkirim. Aku harap, kamu mau membacanya. Tak lama kemudian, sebuah sms masuk. Aku cepat-cepat meraih hpku, berharap itu dari Dio. Tapi harapanku sirna. Itu dari Ala. Dan isinya benar-benar nyakitin.
“Si, cepat datang ke rumah sakit Harapan Bunda. Dio kecelakaan.” Dan saat itu, aku merasakan seolah jantungku jatuh ke tanah.
*****
Aku masih memandang batu nisan yang ada di hadapanku. Tertulis nama Ardio Gama Fernandio, alias Dio. Ia meninggal karena kecelakaan. Waktu itu, dia sebenarnya ada janji dengan Nala, nonton bareng. Karena telat dan takut Nala diapa-apain karena kelamaan nunggu dia, dia jadi ngebut. Dan saat itu, truk yang berlawanan arah menabraknya. Ia sudah meninggal.
Aku menangis sejadi-jadinya. Penyebab yang pertama adalah, karena dia mati sewaktu ingin mengencani Nala, bukan aku. Dan, ia mati sambil membawa cintanya untuk Nala, dan bukan membawa cintanya untukku. Yang kedua adalah, pesan yang kukirim belum sempat ia baca. Jadi, ia mati dengan membawa kekesalannya padaku. Tiba-tiba, Andra dan Ala sudah berdiri di sampingku.
“Sudahlah, Si, ikhlaskan saja. Dio meninggal karena memang sudah waktunya,” balas Ala. Aku memeluk Ala erat, dan saat itu, yang kubutuhkan hanya dia. Lalu, kuceritakan semua hal yang membuatku menangis atas kematian Dio.
“Dio sudah tidak marah lagi kok, sama kamu, saat Ala bilang sama Dio tadi siang kalau kamu sangat menyesal dengan perbuatanmu. Tapi, soal sms, katanya hpnya terlindas truk, jadi, ia memang tidak sempat baca, apalagi, dia sudah dalam keadaan kritis pas masuk rumah sakit,” kata Andra panjang lebar. Aku menatap Andra. Ada sedikit kelegaan dalam hatiku, kalau Dio tidak meninggal sambil membawa amarahnya padaku. Dan aku menemukan satu kelebihannya dari semua kelebihan yang ia punya dan aku tak menyadarinya, ia sangat pemaaf.
*****
Dio, kamu dengar aku, nggak? Aku tahu, kamu sekarang hanya menyukai Nala seorang, dan bukan aku. Aku memang sakit hati. Sakitnya terlalu menusuk, karena aku belum siap untuk tahu bahwa hati kamu memang bukan untukku, melainkan untuk Nala. Tapi, aku rela, kok. Aku rela karena aku tahu, kamu menyayangi Nala dengan tulus, karena itu kelebihanmu. Menyayangi dan mencintai cewek dengan tulus. Maaf kalau aku sudah menjelek-jelekkan kamu, dan tidak menyadari, betapa banyak hal yang bisa dibanggakan dari dirimu. Bahkan, kamu bisa benar-benar mencuri setengah hatiku, dan saat aku kehilangan kamu, aku merasa setengah hatiku hilang, karena kamu bawa. Dan satu lagi, aku benar-benar sayang kamu. Aku harap, kamu dengar semua kata-kataku, ya, walau memang aku nggak pintar bikin kata-kata, tapi itu semua tulus dari hatiku. Semoga kamu tenang ya, di sana...
Komentar
Posting Komentar